Posted by Sari on Aug 21, '07 11:32 PM for everyone ** copy paste dr milis tetangga...
Rekans, Berhati-hatilah bila melihat mobil Ford Everest biru, dengan nomer polisi B 2708 CF. Ciri lainnya terdapat plakat DPR-MPR RI didekat nomor polisi bagian depannya. Pengemudinya berkulit hitam, berbadan tegap, berusia sekitar 30an , berambut cepak agak plontos.
Adapun kronologis kejadian menurut adikku yang korban dan saksi setempat , Pada tanggal 18-08-07, sekitar jam 10.45 terjadi serempetan antara mobil Ford dan mobil Avanza yang dikendarai oleh adik saya di kompleks perumahan Taman Permata, Karawaci. Akibat dari kejadian itu, bemper kanan belakang (tepatnya diatas roda belakang sebelah kanan) mobilku copot.
Setelah tabrakan itu, pengemudi mobil ford biru itu turun dari mobil, langsung lari menghampiri mobil adik saya yang saat itu baru memberhentikan mobilnya. Pengemudi mobil ford itu langsung turun melayangkan tinjunya berkali-kali ke arah wajah adik saya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu mobilku, mencabut kunci yang masih melekat pada kontaknya, mengambil dompet adik saya yang tergeletak di kursi penumpang sebelah kanan, dan pergi meninggalkan adik saya yang masih belumuran darah dan mobilnya di TKP begitu saja.
Dengan dibantu oleh tukang ojek dan satpam, adik saya diantar pulang kerumah. Pada saat itu saya yang sedang berada dirumah sendirian sangat panik melihat keadaannya yang babak belur dan berlumuran darah diseluruh mukanya. Saat itu, saya ingin segera mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan pertama, saya baru teringat akan kunci mobil dan stnk yang masih ditahan oleh 'jagoan bermobil biru itu'.
Indetitas 'jagoan' itu yang akhirnya diketahui bernama Ilham dari petugas keamanan setempat, sehigga saya, dengan diantar oleh 2 orang satpam itu ke rumahnya utk mengambil kembali kunci mobil guna mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.
Apa yang terjadi kemudian, benar sangatlah diluar dugaan, Jagoan tersebut sudah menunggu kami didepan rumahnya dengan berkacak pinggang.
Saat itu, saya yang masih kebingungan segera menanyakan kunci mobil dan dompet yang berisikan STNK, itu akan tetapi langsung dibentak oleh JAGOAN itu, supaya saya jangan menanyakan kunci dan STNK mobil itu, atau saya juga akan dipukul seperti adik saya.
Sebagai seorang wanita, saya tetap bersikeras untuk meminta kembali kunci mobilnya, guna mengantarkan adik saya untuk mendapatkan pertolongan segera, karna darah semakin banyak mengucur dari luka adik saya. Bukan kunci mobil yang saya terima, akan tetapi tamparan dan tinju berkali-kali diarahkan JAGOAN itu ke muka saya, untung saja, ada 2 orang petugas satpam yang sangat sigap melindungi saya dari serangan brutal JAGOAN itu, sehingga hanya mata kanan saya yang memar dan pendarahan pada bola mata saya. Tidak puas karna saya berhasil diselamatkan oleh petugas satpam tersebut, JAGOAN tersebut mengancam akan MENGHABISI saya dan adik saya. ' Awas kamu, Saya TEMBAK kamu, saya matikan kamu berdua'.
Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan buat saya dan adik saya, petugas satpam tersebut segera mengungsikan kami kakak beradik berdua. Kunci mobilku masih enggan dikembalikan, akan tetapi setelah berulangkali petugas keamanan menasehati bahwa dia tidak punya hak menahan kunci mobil, dompet berserta STNK kami, baru dia mengembalikannya kepada pak satpam. Saat ini, kasus ini sudah saya laporkan ke kantor polisi setempat, untuk pengusutan selanjutnya, dengan nomor laporan polisi 683/K/VIII/2007/ SEK.CURUG.
Setau saya pernah dilakukan pemeriksaan dan penertiban terhadap mobil berplakat indetitas DPR MPR RI, bagaimana dengan JAGOAN ini???)
Apakah memang benar dia adalah anggota DPR MPR RI dengan plakat identitas yang melekat di mobilnya???? Apakah benar seseorang dapat seenaknya saja memukul orang???? Benarkah seorang pria dewasa menganiaya seorang wanita yang sedang panik melihat darahnya mengucur semikian deras dari luka adiknya??? Bisakah seenaknya seseorang menghabisi nyawa orang lain??? Apakah fungsi senjata itu??? Jikalau memang dia punya?? Apakah benar kegunaannya untuk mengancam dan menembak orang lain????
Masih adakah jaminan keselamatan dan perlindungan hukum di Negara Indonesia ini, disisi lain kita punya kewajiban untuk membayar pajak ke Negara???
Tolong disebarluaskan email ini, supaya cukup kami saja yang mengalami hal seperti ini, jangan ada lagi kasus kedua dan ketiga yang mengalami nasib seperti kami. Kami mohon doa dan dukungan dari teman-teman sekalian, semoga keadilan dapat benar-benar ditegakan di bumi Indonesia ini, sehingga tidak ada yang namanya main hakim sendiri.
Kejadian ini ada benar adanya…,rekan-rekan sekalian dapat mengeceknya langsung ke kantor polsek curug dengan nomor laporan yang sudah saya sebutkan diatas, atau dapat menghubungi email saya felyshia@hotmail. com
Terima kasih,
Posted by Sari on Jun 2, '07 2:05 AM for everyone  [Krishnamurti diundang memberikan ceramah umum di depan Perhimpunan "Pacem in Terris", PBB, pada 11April 1985, di mana ia menerima penghargaan Medali Perdamaian PBB. Ketika itu K berusia 90 tahun, kurang dari setahun sebelum ia meninggal dunia pada Februari 1986.]
“Manusia Tidak Menemukan Kebahagiaan di Dunia” KRISHNAMURTI DI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 11 APRIL 1985
Saya diminta bicara tentang [kemungkinan] Perdamaian Dunia di kemudian hari sesudah ulang tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ke-40.
Umat manusia, manusia, telah hidup di muka bumi ini lebih dari lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama atau lebih pendek. Sepanjang masa evolusi yang lama itu, manusia tidak menemukan kebahagiaan di dunia--“Pacem in Terris” [“Damai di Bumi”] telah dikhotbahkan lama sebelum Agama Kristen tiba, oleh orang Hindu dan Buddhis di zaman kuno. Dan sepanjang masa itu manusia telah hidup dalam konflik, bukan hanya konflik dengan tetangganya, tetapi dengan orang-orang di dalam komunitasnya sendiri, dengan masyarakatnya sendiri, dengan keluarganya sendiri; ia telah berkelahi, bergulat dengan sesama manusia sepanjang lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama lagi. Sepanjang sejarah, terjadi perang hampir setiap tahun. Dan kita masih berperang sampai sekarang. Saya rasa, ada empat puluh perang berlangsung pada saat ini. Dan hirarki keagamaan, bukan hanya kaum Katolik, tetapi juga golongan-golongan lain, telah bicara tentang “Pacem in Terris”, “Damai di Bumi”, “Kehendak Baik di antara Manusia.” Itu tidak pernah terwujud--damai di bumi. Dan mereka bicara tentang kedamaian ketika Anda meninggal dan pergi ke surga dan Anda menemukan kedamaian di sana.
Kita bertanya-tanya, jika kita memang serius, mengapa manusia membunuh manusia lain--atas nama tuhan, atas nama perdamaian, atas nama ideologi tertentu, atau demi negaranya--apa pun artinya itu--atau demi Raja atau Ratu, dan segala macam itu. Mungkin kita tahu semua ini: bahwa manusia tidak pernah hidup [bahagia] di muka bumi, yang perlahan-lahan tengah dihancurkan- -dan mengapa kita tidak bisa hidup damai dengan sesama manusia lain. Mengapa ada bangsa-bangsa yang saling terpisah, yang bagaimana pun juga hanyalah kesukuan yang diagungkan. Dan agama-agama, entah Kristianitas, Hinduisme atau Buddhisme, mereka juga berperang satu sama lain. Bangsa-bangsa saling berperang, kelompok-kelompok saling berperang, ideologi-ideologi- -entah Rusia, atau Amerika, atau kategori ideologi lain--mereka semua berperang satu sama lain, berkonflik. Dan, setelah hidup di muka bumi ini berabad-abad lamanya, mengapa manusia tidak bisa hidup damai di muka bumi yang indah ini? Pertanyaan ini telah diajukan berulang-ulang. Sebuah organisasi seperti ini telah dibentuk di sekeliling masalah itu. Apakah masa depan organisasi ini khususnya? Setelah tahun ke-40, apa yang akan terjadi kemudian?
Waktu adalah faktor aneh dalam kehidupan. Waktu sangat penting bagi kita semua. Dan masa depan adalah apa yang ada di masa sekarang. Masa depan adalah sekarang, oleh karena masa sekarang, yang juga masa lampau, memodifikasikan diri sekarang, menjadi masa depan. Inilah siklus waktu, titian waktu. Dan sekarang, bukan kemudian dari ulang tahun ke-40 organisasi ini, melainkan sekarang, pada saat kini, jika tidak ada perubahan radikal, mutasi fundamental, masa depan adalah apa yang ada kini. Dan itu telah terbukti dalam sejarah, dan kita bisa membuktikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apakah umat manusia--Anda dan kami, yang duduk di panggung ini--mohon maaf, saya duduk di panggung ini sebagai manusia, selama kita saling berkonflik terus-menerus dengan sesama manusia, tidak akan ada perdamaian di muka bumi ini. Orang boleh bicara tentang hal itu tanpa akhir. Hirarki Katolik Roma bicara tentang ‘Pacem in Terris’, dan mereka juga bertanggung jawab atas perang-perang yang mengerikan di masa lampau. Perang Seratus Tahun, penyiksaan, segala macam hal yang mengerikan yang mereka lakukan terhadap manusia. Semua ini fakta, aktualitas, bukan keinginan pembicara. Dan agama-agama, termasuk Islam, Hindu dan Buddha, dan sebagainya, mereka juga mempunyai perangnya sendiri. Dan masa depan setelah ulang tahun ke-40 ini ialah apa yang tengah terjadi sekarang.
Kita bertanya-tanya jika kita menyadari itu. Masa kini bukan hanya masa lampau, tetapi juga mengandung masa depan, masa lampau yang memodifikasikan diri, terus-menerus melalui masa kini, dan memroyeksikan masa depan. Jika kita tidak mengakhiri pertengkaran, pergulatan, antagonisme, kebencian, sekarang juga, esok akan seperti ini lagi. Dan Anda bisa mengulur esok itu selama seribu tahun, itu akan tetap esok.
Jadi penting bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita, sebagai manusia, sendirian atau sebagai komunitas, atau dalam keluarga, apakah kita bisa hidup damai satu sama lain? Organisasi tidak memecahkan masalah ini.
Anda boleh membentuk organisasi baru, tetapi perang tetap berlangsung. Jadi organisasi, entah organisasi dunia entah organisasi tertentu untuk menciptakan perdamaian, organisasi seperti itu tidak akan pernah berhasil, oleh karena manusia, secara individual, secara kolektif, sebagai bangsa, berkonflik. Negara-negara besar, seperti Amerika atau Rusia, berperang satu sama lain--secara ekonomis, secara ideologis, dan secara aktual--masih belum terjadi pertumpahan darah. Jadi perdamaian tidak mungkin terwujud di muka bumi ini jika ada bangsa-bangsa, yang seperti kami katakan, adalah kesukuan yang diagungkan.
Bangsa memberikan rasa aman tertentu; manusia membutuhkan rasa aman, dan ia berinvestasi dalam nasionalisme, atau dalam ideologi atau kepercayaan tertentu.
Kepercayaan, ideologi dan sebagainya telah memisahkan manusia. Dan organisasi tidak mungkin bisa menghasilkan perdamaian di antara manusia oleh karena ia percaya pada sesuatu, ia percaya pada ideologi-ideologi tertentu, ia percaya pada tuhan, dan orang lain tidak percaya.
Saya tidak tahu apakah orang pernah berpikir, agama-agama yang berdasarkan pada satu buku--seperti Al-Qur’an atau Alkitab--menjadi sangat fanatik, sempit dan fundamentalis. Dan agama-agama seperti Hinduisme dan Buddhisme, mereka memiliki banyak kitab, yang semuanya dianggap suci, benar, langsung datang dari mulut tuhan! Mereka tidak begitu fanatik, mereka toleran, mereka menyerap. Jadi begitulah konflik ini berlangsung terus; mereka yang bergantung, menaruh kepercayaan pada kitab suci-kitab suci, dan mereka yang tidak menaruh kepercayaan pada kitab mana pun. Jadi konflik antara satu kitab dan mereka yang menerima banyak kitab; saya tidak tahu, apakah kita sadar akan semua ini.
Dan kita bertanya dengan mendalam--jika Anda memang benar-benar serius--apakah Anda dan saya, dan mereka yang terlibat di dalam berbagai organisasi, bisa hidup damai satu sama lain? Kedamaian membutuhkan kecerdasan mendalam, bukan sekadar demonstrasi terhadap perang tertentu, terhadap bom atom atau bom nuklir, dan sebagainya. Semua itu produk dari pikiran, otak yang terpaku pada nasionalisme, pada sebentuk kepercayaan, ideologi tertentu, sehingga mereka menyediakan senjata--negara- negara adidaya, entah itu Rusia, Amerika, atau Inggris, atau Prancis--senjata ke seluruh dunia, dan mereka juga bicara tentang perdamaian, pada saat yang sama mereka menyediakan senjata.
Ini adalah dunia sinis yang besar, dan sinisme tidak pernah mentolerir kasih sayang, perhatian, cinta. Saya rasa, kita telah kehilangan sifat itu--sifat welas asih. Bukan menganalisis apa itu welas asih--itu bisa dianalisis dengan amat mudah. Anda tidak bisa menganalisis apa itu cinta; cinta tidak berada di dalam keterbatasan otak, oleh karena otak adalah alat dari indra, itu adalah pusat dari semua reaksi dan tindakan, dan kita mencoba menemukan perdamaian, cinta di dalam wilayah terbatas ini. Ini berarti, pikiran bukanlah cinta, oleh karena pikiran berdasarkan pengalaman, yang terbatas, dan berdasarkan pengetahuan, yang selalu terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Jadi pengetahuan selalu terbatas. Dan dari pengetahuan, yang tersimpan di otak sebagai ingatan, dari ingatan itu muncullah pikiran. Ini bisa diamati dengan amat sederhana dan mudah jika kita memeriksa diri sendiri, jika kita memandang kegiatan pikiran, pengalaman, pengetahuan kita sendiri. Anda tidak perlu membaca buku apa pun, atau menjadi spesialis untuk memahami cara Anda sendiri berpikir, hidup.
Jadi, pikiran selamanya terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Dan kita mencoba memecahkan semua masalah kita, entah yang bersifat teknologis, religius, dan pribadi, melalui kegiatan pikiran. Jelas pikiran bukanlah cinta, cinta bukanlah sensasi atau kenikmatan, itu bukan hasil dari keinginan. Itu sesuatu yang sama sekali lain. Untuk sampai pada cinta itu, yang adalah welas asih, yang memiliki kecerdasannya sendiri, kita perlu memahami diri sendiri, apa adanya diri kita--bukan melalui seorang analis, melainkan memahami kesedihan kita sendiri, kesenangan kita sendiri, kepercayaan kita sendiri.
Anda tahu, ke mana pun Anda pergi, di seluruh dunia, umat manusia menderita, karena berbagai alasan, yang mungkin remeh, mungkin pula sebuah peristiwa yang amat dalam, yang menyebabkan kepedihan, kesedihan. Dan setiap orang di muka bumi ini mengalami itu dalam skala kecil, atau sebagai peristiwa hebat, sebagai kematian. Dan kesedihan dialami oleh seluruh umat manusia; itu bukan kesedihan Anda atau kesedihan saya, itu kesedihan umat manusia, kecemasan, kepedihan, kesepian, keputusasaan, keagresifan umat manusia. Jadi, Anda dan kami, dan seluruh umat manusia, kita bukan manusia yang terpisah-pisah secara psikologis. Anda mungkin seorang perempuan atau laki-laki, Anda mungkin tinggi, gelap, pendek, dan seterusnya, tetapi di dalam, secara psikologis, yang jauh lebih penting, kita adalah umat manusia. Anda adalah umat manusia; jadi, jika Anda membunuh sesama manusia, jika Anda berkonflik dengan sesama manusia, Anda menghancurkan diri sendiri. Anda bisa mengamati ini dengan amat cermat jika Anda memandang diri sendiri tanpa distorsi apa pun.
Jadi, perdamaian hanya bisa ada apabila umat manusia, apabila Anda dan saya, tidak mempunyai konflik dalam diri kita. Dan Anda mungkin berkata, “Jika orang mencapai, atau sampai pada akhir dari semua konflik di dalam diri sendiri, bagaimana itu mempengaruhi seluruh umat manusia?” Ini pertanyaan yang amat tua. Ini sudah diajukan ribuan tahun lalu kepada Kristus; jika ia memang pernah ada. Dan kita harus bertanya, apakah di dalam diri kita kesedihan, kepedihan, kecemasan, dan semua itu, bisa berakhir? Jika kita menerapkan, memandang, mengamati, dengan perhatian mendalam, sebagaimana Anda memandang dengan cukup perhatian ketika Anda menyisir rambut Anda, atau mencukur jenggot Anda, dengan kualitas perhatian seperti itu, yang kuat, Anda bisa mengamati diri Anda--segala nuansa, yang halus-halus. Dan cerminnya adalah hubungan Anda dengan sesama manusia; di dalam cermin itu Anda bisa melihat diri Anda persis seperti apa adanya. Tetapi kebanyakan dari kita takut melihat apa adanya diri kita; jadi, berangsur-angsur kita mengembangkan perlawanan, rasa bersalah, dan segala macam itu. Jadi, kita tidak pernah menuntut kebebasan total--bukan untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk bebas dari pilihan. Di mana ada banyak pilihan, di situ ada banyak kebingungan.
Jadi, bisakah kita hidup di muka bumi ini, ‘Pacem in Terris’, dengan pemahaman mendalam tentang umat manusia, yang berarti memahami diri Anda sendiri dengan begitu mendalam, bukan menurut seorang psikolog atau psikoanalis. Mereka juga perlu dianalisis. Jadi, kita bisa, tanpa perlu berpaling kepada para spesialis, sebagai orang awam sederhana, kita bisa mengamati keanehan-keanehan, kecenderungan- kecenderungan kita sendiri. Otak kita--pembicara bukan seorang spesialis otak--otak kita telah terkondisi oleh perang, oleh kebencian, oleh konflik. Ia terkondisi melalui masa evolusi yang panjang ini; apakah otak itu beserta sel-selnya, yang mewadahi seluruh ingatan, apakah otak itu bisa membebaskan diri dari keterkondisiannya sendiri? Begini, mudah sekali menjawab pertanyaan seperti itu. Jika Anda berjalan ke Utara setiap hari sepanjang hidup Anda, sementara umat manusia berjalan ke satu arah, yakni konflik, dan ada orang datang lalu berkata, “Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana.” Ia serius, dan mungkin Anda juga serius. Lalu ia berkata, “Pergilah ke Selatan, pergilah ke Timur, ke mana saja, asal bukan ke situ.” Dan ketika Anda benar-benar menjauhkan diri dari arah itu, terjadilah perubahan di dalam sel-sel otak sendiri, oleh karena Anda telah mematahkan polanya. Dan pola itu harus dipatahkan sekarang, bukan empat puluh atau seratus tahun lagi.
Dan bisakah manusia memiliki vitalitas, energi untuk mengubah diri mereka sendiri menjadi manusia yang beradab, tidak saling membunuh satu sama lain?
PIMPINAN SIDANG: Bolehkah kami bertanya?
KRISHNAMURTI: Ya, Pak, bertanyalah. Senang sekali.
PIMPINAN: Kita punya waktu untuk beberapa pertanyaan, dan Mr. Krishnamurti dengan senang hati bersedia menjawab pertanyaan apa pun yang Anda ajukan. Bila Anda akan bertanya, silakan mengangkat tangan sehingga sistem suaranya terhubung. Terima kasih.
PENANYA: Saya mengajukan pertanyaan berkaitan dengan keinginan akan suatu ungkapan spiritual yang saya rasakan terhubung dengannya. Apakah saya didengarkan? Saya rasa tidak. Saya rasa, ada rasa terputus hubungan, yang dikomunikasikan kepada saya. Saya mengharapkan suatu hubungan spiritual dengan saya dan orang-orang lain di kelompok ini yang akan memberikan suasana batin yang membahagiakan. Itulah yang saya harapkan akan saya alami pada ceramah ini, suatu rasa akan kesatuan yang meningkat secara spiritual, alih-alih suatu ungkapan intelektual.
KRISHNAMURTI: Pertama-tama, saya tidak paham akan kata ‘spiritual’. Apakah itu emosional, romantik, ideologis, atau sesuatu yang samar-samar di udara; ataukah menghadapi aktualitas, apa yang tengah terjadi sekarang, yang terjadi di dalam diri kita maupun yang terjadi di dunia? Oleh karena Anda adalah dunia, Anda tidak terpisah dari dunia. Kita telah menciptakan masyarakat ini, dan kita adalah masyarakat itu. Dan apa pun pengalaman yang kita miliki, apa yang dinamakan ‘religius’ atau ‘spiritual’, kita harus meragukan pengalaman itu sendiri, kita harus mempertanyakan, bersikap skeptis. Saya tidak tahu, apakah Anda menyadari bahwa kata ‘skeptisisme’, mempertanyakan, menyelidik, tidak dianjurkan di dunia Kristen. Sedangkan di dalam Buddhisme, dan juga Hinduisme, itu adalah salah satu hal yang esensial, Anda harus mempertanyakan segala sesuatu, sampai Anda menemukan atau sampai pada kebenaran itu, yang bukan milik Anda, atau milik siapa pun, itulah kebenaran.
Dan penyelidikan itu bukan intelektual. Intelek hanyalah sebagian dari keseluruhan struktur manusia. Kita harus memandang dunia dan diri sendiri sebagai keberadaan yang holistik. Dan kebenaran bukanlah sesuatu untuk dialami. Jika boleh kami tunjukkan, siapakah yang mengalami itu, yang terlepas dari pengalamannya. Bukankah yang mengalami itu bagian dari pengalaman? Kalau tidak, ia tak akan tahu apa pengalaman yang dialaminya. Jadi yang mengalami adalah pengalaman; si pemikir adalah pikiran; si pengamat, dalam arti psikologis, adalah yang diamati. Tidak ada perbedaan. Dan di mana ada perbedaan, pemisahan, muncullah konflik. Dengan berakhirnya konflik terdapat kebebasan, dan barulah kebenaran bisa muncul. Semua ini bukanlah intelektual, demi tuhan. Ini adalah sesuatu yang kita hayati, dan temukan.
PENANYA: Anda banyak menekankan pada penyelidikan dan skeptisisme. Saya ingin tahu, apakah menurut Anda iman juga berperan di situ.
KRISHNAMURTI: Apakah iman itu? Pada apakah Anda beriman? Orang beriman pada suatu pengalaman tertentu; orang beriman pada suatu kepercayaan tertentu, atau pada sebuah lambang, dan seterusnya. Mengapa kita beriman? Apakah itu karena rasa takut, karena rasa tidak pasti, karena rasa tidak aman? Bila Anda punya iman, misalnya sebagai seorang Hindu beriman pada suatu lambang tertentu, dan Anda berpegang teguh pada iman itu, atau pada lambang itu, maka Anda berperang dengan dunia selebihnya. Tetapi untuk menyelidik dengan lembut, dengan berhati-hati, dengan mempertanyakan, bertanya kepada diri sendiri, maka dari situ muncullah kejernihan. Dan perlu ada kejernihan untuk memahami apa yang abadi.
PENANYA: Pada akhirnya, Anda berkata bahwa kita perlu mematahkan pola konflik di antara sesama manusia. Pertanyaan saya kepada Anda adalah, apakah Anda melihatnya sebagai proses evolusioner yang mau tidak mau akan terjadi? Ataukah Anda melihatnya sebagai sesuatu yang harus kita capai dengan bekerja keras? Dan ada pepatah yang kira-kira berbunyi: di dalam masa kegelapan, mata mulai melihat. Dan mengapa saya melontarkan pertanyaan ini kepada Anda, oleh karena dalam suatu arti tertentu, itu akan terjadi, atau itu tidak akan terjadi; tetapi bagaimana Anda melihat terjadinya?
KRISHNAMURTI: Saya tidak begitu paham pertanyaan Anda, Pak.
PENANYA: Baiklah. Anda bicara tentang mematahkan pola; manusia memiliki pola, otak memiliki pola, dan pola itu harus dipatahkan agar perdamaian bisa terwujud di dunia.
KRISHNAMURTI: Tentu saja.
PENANYA: Nah, apakah Anda melihat pematahan pola itu sebagai suatu gerak aktif, ataukah sebagai kemajuan alamiah di dalam evolusi manusia?
KRISHNAMURTI: Pak, apakah kita ini benar-benar ber-evolusi?
PENANYA: Saya rasa, kita terus-menerus ber-evolusi.
KRISHNAMURTI: Jadi, Anda menerima evolusi--evolusi psikologis, kita tidak berbicara tentang evolusi biologis, atau evolusi teknis--evolusi psikologis. Setelah sejuta tahun, atau lima puluh ribu tahun, apakah kita berubah secara mendalam? Bukankah kita ini sangat primitif, biadab? Jadi saya minta, mohon pertimbangkan apakah ada evolusi psikologis sama sekali? Saya mempertanyakan itu. Secara pribadi, bagi pembicara, tidak ada evolusi psikologis; yang ada hanya pengakhiran kesedihan, kesakitan, kecemasan, kesepian, keputusasaan, dan sebagainya. Manusia telah hidup bersama itu selama sejuta tahun. Dan jika kita bergantung pada waktu, yang adalah pikiran--pikiran dan waktu selalu terjadi bersama-sama- -jika kita bergantung pada evolusi, seribu tahun lagi atau lebih, kita masih akan tetap biadab.
PENANYA: Pertanyaan saya adalah: apa yang harus terjadi agar evolusi psikologis bisa mulai sebagaimana dipahami pembicara?
KRISHNAMURTI: Evolusi psikologis bagaimana? Saya tidak paham pertanyaannya.
PENANYA: Anda berkata, menurut Anda belum ada evolusi psikologis. Pertanyaan saya adalah: apakah yang harus terjadi agar akan terjadi, atau bisa terjadi, evolusi psikologis.
KRISHNAMURTI: Ibu, saya rasa, kita berdua tidak memahami satu sama lain. Kita telah hidup di bumi ini secara historis, atau dari penyelidikan zaman bahari, selama kurang lebih lima puluh ribu tahun. Dan selama masa evolusi yang panjang itu, secara psikologis, di dalam, secara subyektif, kita tetap kurang lebih biadab--saling membenci, saling membunuh. Dan waktu tidak akan memecahkan masalah itu, yang adalah evolusi. Dan kita bertanya, mungkinkah bagi setiap manusia, yang adalah dunia ini selebihnya, bahwa gerak psikologis itu berhenti, dan melihat sesuatu yang segar?
PENANYA: Saya ingin mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, dirumuskan secara lain: apakah yang perlu kita lakukan untuk mempengaruhi perlawanan terhadap evolusi ini. Saya ingin menyampaikan satu hal lagi. Bulan lalu, ada seorang bernama Dr Bohm; ia mengatakan hal yang sama seperti Anda dengan cara berbeda; ia seorang ilmuwan, ia menerangkan masalah yang sama. Saya bertanya, menurut Anda apakah yang bisa kita lakukan sekarang untuk menghasilkan ini?
KRISHNAMURTI: Sekarang saya mengerti. Apa yang bisa Anda lakukan sekarang, bukan? Berubahlah sepenuhnya!- -baik secara psikologis, maupun secara lahiriah. Pertama, revolusi psikologis, bukan evolusi, melainkan revolusi, berubahlah sepenuhnya. Itulah tindakan manusia yang sesungguhnya, bukan mencoba mengotak-atik di pinggiran.
PENANYA: Anda berkata, bahwa syarat penting untuk memahami umat manusia adalah mulai memahami diri kita sendiri dengan jelas. Apakah Anda melihat bahwa di ruangan ini, dalam waktu empat puluh tahun lagi, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemahaman akan umat manusia melalui pemahaman akan diri sendiri akan menjadi bagian dari pengambilan keputusan global?
KRISHNAMURTI: Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena saya tidak termasuk organisasi ini. Tanyakan kepada boss-boss itu.
PENANYA: Saya ingin menambahkan catatan lain, mungkin catatan untuk untuk menambah semangat dalam pertanyaan saya. Anda mengisyaratkan bahwa organisasi mungkin tidak bisa memberikan jawaban, dan Anda juga mengisyaratkan bahwa sejarah umat manusia membuat Anda cenderung pesimistik tentang masa depan dan keselamatan. Saya rasa, itu bergantung pada sifat organisasi, dan apakah organisasi itu melayani kepentingan umat manusia dan siap ber-evolusi, sebagaimana PBB dan banyak kelompok lain ber-evolusi, dan sebagaimana manusia ber-evolusi, dengan syarat kita tidak bunuh diri, dan dengan syarat kita bisa menghubungkan diri dengan kasih sayang dan respek, yang untuk itu gen-gen kita juga terkode. Tidak ada akhir dari apa yang bisa kita buat di atas atau di luar planet ini. Dan implikasinya di situ, yang saya setujui, ialah bahwa kita ber-evolusi oleh karena kita mempuyai kemampuan untuk mencinta dan bekerja sama, dan bahwa kita tidak akan habis oleh karena kita menunjukkan kebencian dan ketakutan dan keserakahan, dan di masa lampau kita menyerah kepada keburukan-keburukan itu. Tetapi justru dengan adanya Perserikatan Bangsa-Bangsa, kita mempunyai contoh tentang kemampuan manusia untuk tumbuh dan berbagi cita-cita. Saya rasa, masa kini memang mengandung masa depan, dan dengan bertindak dengan penuh semangat pada masa kini kita bisa mempengaruhi masa depan dan kelestarian kita. Oleh karena itu saya bertanya, apakah jawaban terhadap pertanyaan yang Anda tampilkan tentang bila orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya, dengan adanya batas waktu?
KRISHNAMUTI: Apakah pertanyaannya, Pak?
PENANYA: Pertanyaannya adalah, ketika orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya tanpa struktur organisasi.
KRISHNAMURTI: Saya telah menjelaskan itu; maaf, saya telah menjelaskan itu. Jika saya berubah, bagaimana itu mempengaruhi umat manusia, dunia selebihnya? Itu pertanyaannya, bukan, Pak? Tunggu sebentar, Pak.
PENANYA: Itu pertanyaannya.
KRISHNAMURTI: Saya rasa, jika boleh saya dengan penuh hormat menunjukkan, itu pertanyaan yang salah. Berubahlah dulu, dan Anda akan melihat apa yang terjadi. Ini hal yang sungguh amat penting. Kita harus mengesampingkan semua masalah-masalah sampingan. Mohon disadari sesuatu yang amat besar: bahwa Anda secara psikologis adalah seluruh umat manusia. Anda adalah umat manusia, entah Anda hidup di India, di Rusia, di Cina, atau di Amerika, atau di Eropa, Anda adalah umat manusia selebihnya, oleh karena Anda menderita, dan setiap orang di dunia ini menderita dengan caranya sendiri. Kita berbagi penderitaan ini, itu bukan penderitaanku. Jadi, jika Anda mengajukan pertanyaan: perbedaan apa yang akan dihasilkan jika saya atau Anda berubah, kalau saya boleh menunjukkan dengan segala kerendahan hati, itu adalah pertanyaan yang salah. Anda menghindari masalah pokoknya. Dan tampaknya kita tidak pernah menghadapi masalah pokoknya, tantangan pokok yang menuntut bahwa kita hidup secara lain sama sekali, bukan sebagai orang Amerika, orang Rusia, orang India, atau orang Buddhis, atau orang Kristen.
Saya tidak tahu, apakah Anda pernah menyadari bahwa orang Kristen bertanggung jawab terhadap pembunuhan lebih banyak manusia daripada kelompok agama lainnya. Harap jangan marah! Lalu Islam, dunia Muslim, lalu orang Hindu, dan orang Buddhis menyusul jauh di belakang. Jadi, jika mereka yang menamakan diri Kristen, termasuk Katolik, yang berjumlah sekitar delapan ratus juta orang, jika mereka berkata, “Tidak boleh ada perang lagi,” Anda akan memperoleh perdamaian di muka bumi ini. Tetapi mereka tidak mau berkata demikian. Hanya Buddhisme, Hinduisme, yang berkata, “Jangan membunuh. Jika Anda membunuh,”--mereka percaya akan reinkarnasi- -“Anda akan membayarnya dalam kehidupan yang akan datang.” Oleh karena itu, jangan membunuh, jangan membunuh makhluk yang paling kecil sekalipun, kecuali Anda harus makan, tumbuhan dan sebagainya. Tetapi jangan membunuh! Kami sebagai brahmana tidak dibesarkan secara itu, tidak membunuh seekor lalat, tidak membunuh binatang untuk makanan Anda. Tetapi semua itu sudah lenyap. Jadi, kami menyarankan bahwa masalah pokok dalam menghentikan perang adalah Anda harus mengakhiri antagonisme Anda sendiri, mengakhiri konflik-konflik Anda sendiri, mengakhiri kesengsaraan dan penderitaan Anda sendiri.
Mengapa kita memilih, terlepas dari benda-benda fisik--dua bahan, pakaian, mobil? Anda memilih karena perbedaan fungsinya dan keiritannya, dan sebagainya. Tetapi, secara psikologis, mengapa Anda harus memilih? Mengapa ada pilihan? Ada pilihan, bila Anda ingin pergi dari satu kota ke kota lain, bila Anda ingin pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain--bukan di Rusia, bukan di dunia tiranikal, di dunia totaliter, Anda terpaku di tempat Anda, Anda tidak boleh pindah--kecuali disetujui atasan. Dan di negeri ini, di masyarakat yang dinamakan demokratis, Anda mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang Anda inginkan. Dan Anda menamakannya kebebasan--untuk memenuhkan diri Anda, untuk memperoleh sukses besar. Anda mempunyai pilihan amat besar. Sekarang kita bicara tentang pilihan di bidang psikologis. Jika Anda melihat dengan amat jelas, tidak ada pilihan. Sayang kita tidak melihat dengan jelas. Kita tidak melihat jelas bahwa nasionalisme adalah salah satu penyebab perang. Kita tidak melihat jelas bahwa ideologi menumbuhkan perang, entah itu ideologi Marxis, atau Lenin, atau ideologi tertentu yang kita miliki. Jadi, kita memilih dari satu ideologi ke ideologi lain, dari satu agama ke agama lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, dan kita mengira kita bebas. Sebaliknya, itu menunjukkan kebingungan. Dan bila kita bingung, kita bertindak dalam kebingungan, dan dengan demikian menggandakan kebingungan, seperti dilakukan oleh para politisi--maaf.
PENANYA: Kami ada pertanyaan tertulis bagi Mr. Krishnamurti di sini. Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan?
KRISHNAMURTI: Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan? Saya tidak tahu, apa artinya itu. Tunggu dulu, Pak.
PENANYA: Maaf, sekarang ini Anda bicara dari forum publik, dan begitu ceramah ini selesai, Anda mungkin kembali ke dalam privasi yang mungkin sangat Anda senangi. Jadi, bagi kebanyakan manusia di dunia ini, terdapat pemisahan antara kehidupan publik dan kehidupan privat. Apa komentar Anda mengenai pemisahan ini? Apakah menurut Anda ini membawa pada konflik, apakah itu perlu?
KRISHNAMURTI: Antara kehidupan publik dan kehidupan privat? Itukah pertanyaannya? Mengapa Anda memisahkannya? Mengapa kita memisahkan kehidupan publik seolah-olah itu sesuatu di luar, dan kehidupan privat? Jika kita hidup dengan benar, dengan teliti, bukan secara intelektual, melainkan secara holistik, maka tidak ada kehidupan luar dan kehidupan privat. Secara holistik, artinya hidup sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai seorang sektarian, bukan sebagai individual, bukan sebagai batin kecil remeh, otak yang aktif mengejar kepentingan diri. Maaf, bila saya terkesan tegas. Sudah selesai, Pak?
PIMPINAN SIDANG: Ada dua pertanyaan lagi.
PENANYA: Jika Anda hidup dengan damai, dan seorang tiran menyerang, apakah Anda tidak mempertahankan diri?
KRISHNAMURTI: Apa yang Anda lakukan? Jika Anda hidup damai, dan seorang tiran atau seorang perampok menyerang Anda, apa yang Anda lakukan? Itulah pertanyaannya. Apakah Anda hidup damai sehari atau dua hari? Ataukah Anda hidup damai sepanjang hidup Anda? Jika Anda pernah hidup damai bertahun-tahun, maka Anda akan melakukan hal yang tepat bila Anda diserang.
Bapak-Bapak, pembicara telah berbicara seperti ini selama enam puluh tahun terakhir atau lebih--di seluruh dunia, kecuali di balik Tirai Besi; sebelum perang ia telah berkeliling di Eropa--dan pertanyaan-pertanya an ini telah diajukan kepada pembicara selama enam puluh tahun. Pola yang sama diulangi kembali oleh generasi muda, oleh suatu peradaban yang baru seperti Amerika, pertanyaan-pertanya an yang sama, dengan maksud yang sama, untuk menjerumuskan pembicara, atau untuk sungguh-sungguh memahami pembicara, atau memahami diri sendiri. Dan jika Anda bernasib malang atau bernasib mujur untuk berbicara selama enam puluh tahun, Anda akan tahu semua jawaban dan semua pertanyaan. Tidak ada perbedaan antara pertanyaan dan jawaban. Jika Anda memahami pertanyaannya dengan mendalam sungguh-sungguh, maka jawabannya terdapat di dalam pertanyaan itu.
PIMPINAN SIDANG: Mr. Robert Miller ingin bertanya.
PENANYA: Bukan mau bertanya, melainkan ingin mengucapkan selamat atas pernyataan Anda. Dan mengkonfirmasikan bahwa setelah tinggal di organisasi ini selama hampir empat puluh tahun, dan telah hidup lebih dari enam puluh tahun, saya telah sampai pada kesimpulan yang sama dengan Anda. Kita semua telah terprogram, kita terprogram ke dalam suatu bangsa, ke dalam suatu ideologi, ke dalam suatu agama. Dan semua ini adalah manusia yang terpecah-belah. Saya perlu waktu empat puluh tahun berada di gedung ini untuk di-deprogram- kan dari dua atau tiga kebangsaan yang dipaksakan kepada saya, setiap kali saya diberi senapan untuk ditembakkan ke arah lain. Dan di sinilah, setelah melihat dunia dalam totalitasnya dan umat manusia dalam totalitasnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa lebih penting untuk menjadi seorang manusia daripada menjadi seorang Yahudi, atau seorang Katolik, atau seorang Prancis, atau seorang Rusia, atau seorang kulit putih, atau seorang kulit hitam.
KRISHNAMURTI: Benar.
PENANYA: Dan di dalam kitab saya, saya tidak akan membunuh berdasarkan alasan apa pun, atau demi bangsa saya, atau demi agama apa pun, atau demi ideologi apa pun. Inilah kesimpulan saya yang juga kesimpulan Anda.
KRISHNAMURTI: Apakah itu suatu kesimpulan, Pak? Ataukah aktualitas?
PENANYA: Itu aktualitas saya.
KRISHNAMURTI: Benar. Bukan kesimpulan.
PENANYA: Saya tidak berdebat tentang agama, tetapi ingin mengingatkan bahwa pepatah, “Sebuah mata bagi sebuah mata, sebuah gigi bagi sebuah gigi,” sesungguhnya bukanlah ajaran Kristiani. Sebaliknya, Kristus berpendapat bahwa jalan perdamaian adalah memperhatikan dan mengurus sesama manusia, memiliki welas asih dan cinta satu sama lain. Tetapi saya ingin tahu, bagaimana mematahkan pola konfrontasi di antara manusia ini. Saya tidak bicara tentang negara, karena negara dibentuk oleh manusia, dan juga pemerintah, mereka adalah manusia yang memerintah negeri. Bagaimana kita bisa mematahkan pola ini? Mengapa umat manusia tidak mampu memraktikkan pikiran-pikiran gemilang yang ditulis Kristus untuk kita, dan ditulis pula oleh semua agama? Saya ingin tahu, apakah kita bisa menemukan resep, solusi untuk mematahkan pola konfrontasi yang mengerikan, bahkan kebencian di antara keluarga, sebagaimana ditunjukkan oleh Krishnamurti, oleh karena itu bukan hanya perang di antara bangsa, selalu ada konfrontasi, bahkan di antara anak-anak, yang seorang bersama Mama dan yang lain ingin pula ke situ. Pola itu, bagaimana kita bisa mematahkannya?
KRISHNAMURTI: Bolehkah saya menjawab pertanyaan Anda? Kita terprogram, seperti komputer--kita orang Katolik, Protestan, Buddhis, dan seterusnya. Seperti disampaikan oleh Bapak (?), kita terkondisi. Apakah kita menyadari, atau melihat secara aktual, bukan secara teoretis, atau secara ideologis, melainkan secara aktual melihat bahwa kita terprogram? Ataukah itu sekadar pernyataan sepintas lalu saja? Jika Anda sungguh-sungguh terprogram, sadarkan Anda konsekuensi dari terprogram? Salah satu konsekuensinya adalah kebencian, atau perang, atau memisahkan dari orang lain. Jika kita menyadari bahwa kita terprogram, ditekan, dikhotbahi, dan jika kita sungguh-sungguh melihat itu, Anda membuangnya, Anda tidak butuh resep untuk itu. Pada saat Anda mempunyai resep Anda terperangkap lagi di situ. Maka Anda terprogram lagi, oleh karena Anda mempunyai program Anda, dan orang akan memberikan program mereka kepada Anda. Jadi, yang penting adalah menyadari aktualitas keadaan terprogram, bukan secara intelektual, melainkan dengan seluruh darah daging dan energi Anda.
PIMPINAN SIDANG: Oleh karena unsur waktu, kita tidak bisa mengajukan pertanyaan-pertanya an lagi. Atas nama Pacem in Terris Society dan Movement for A Better World, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada pembicara tamu kita yang terhormat, serta Brother Fellow dan Ambassador Berry yang merupakan Ketua-Ketua Kehormatan dari Perhimpunan ini, serta Anda sekalian yang telah datang menghadiri ceramah pada hari ini.
Ada sebuah upacara sangat sederhana sebelum Anda pergi. Tuan Krishnamurti berada di sini tahun lalu pada 17 April, pada saat kita merayakan hari Pacem in Terris. Dan tahun ini kita beruntung, pada hari ulang tahun ke-22 Pacem in Terris, dan Anda semua telah mendengar tentang hal itu. Atas nama Pacem in Terris Society di Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami mendapat kehormatan untuk menganugerahkan kepada Anda, Mr. Krishnamurti, Guru Dunia, Medali Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1984.***

Posted by Sari on May 31, '07 6:49 AM for everyone  Salah seorang teman Nasrudin Hoja suka sekali mengumpulkan uang. Ia cepat menjadi kaya, namun memiliki sifat kurang terpuji yaitu kikir.
Suatu hari si kikir bepergian dengan teman-temannya, termasuk Nasrudin. Tatkala melewati tepian sungai, si kikir terpeleset dan jatuh tercebur. Semua temannya berlarian untuk menolong, seorang diantaranya membungkuk sambil mengulurkan tangan “Ayo, berikan tanganmu. Nanti engkau kutarik ke atas”. Si kikir diam saja, ia tak mau mengulurkan tangannya untuk ditolong.
Seorang temannya yang lain melakukan hal serupa, dan si kikir tetap saja tidak mau memberikan tangannya untuk ditolong.
Kini giliran Nasrudin datang, ia membungkuk ke tepian sungai “Terimalah tanganku ini kawan, aku akan mengangkatmu naik ke atas sungai”. Kali ini si kikir bergegas mengulurkan tangannya. Ia diangkat dari sungai dengan keadaan kuyup.
Teman-temannya bingung melihat ulah Nasrudin. “Ah, kalian seperti tak mengerti watak teman kita ini,” kata Nasrudin sambil tersenyum.
Jika kalian berkata ‘Berikan!’ kepadanya, pasti ia akan diam dan tak mau mengulurkan tangannya. Coba kalian berkata ‘Terimalah wahai kawanku!’, pasti ia akan segera mengulurkan tangannya. Apa kalian semua lupa ia kan sangat kikir.”
Si kikir dengan muka cemberut bergegas pergi meninggalkan Nasrudin dan teman-temannya. 
Posted by Sari on May 26, '07 12:59 PM for everyone  Our Lord! not for naught Hast Thou created (all) this! Glory to Thee! Give us Salvation from the Penalty Of the Fire.
Our Lord! any whom Thou Dost admit to the Fire, Truly Thou coverest with shame, And never will wrongdoers Find any helpers!
Our Lord! we have heard The call of one calling (Us) to Faith, 'Believe ye In the Lord,' and we Have believed. Our Lord! Forgive us our sins, Blot out from us Our iniquities, and take To Thyself our souls In the company of the righteous.
Our Lord! Grant us What Thou didst promise Unto us through Thy Messengers, And save us from shame On the Day of Judgment; For Thou never breakest Thy promise.

Posted by Sari on May 26, '07 11:32 AM for everyone  Allah suka padamu... Kalau Dia punya dompet, pasti fotomu disimpan didalam-nya, Kalau Dia punya kulkas, fotomu pasti disimpan di pintunya, Dia mengirim bunga untukmu setiap musim semi dan matahari terbit setiap pagi, Kalau kamu ingin bicara, Dia pasti mau mendengarkan. Sebenarnya Dia bisa tinggal dimana saja di alam semesta ini, dan Dia memilih hatimu. Terima saja sobat, Dia tergila-gila padamu! Kayak nya mungkin kamu susah sekali percaya bahwa Allah mengenal namamu. Dia benar benar mengenal namamu (Yes45:3-4) . Tertulis ditelapak tangan-Nya,diucapkan dengan mulut-Nya, Dibisikkan dengan bibir-Nya, Namamu. Hati kita tidak cukup besar untuk memuat semua berkat yang ingin Allah berikan.
Jadi, coba ini : Kalau matahari terbit membuatmu begitu takjub sampai menahan nafas, atau bunga bunga dipadang membuatmu begitu terpesona, sampai tidak bisa berkata kata tetaplah seperti itu. Tidak perlu mengatakan apa-apa dan dengarkan sorga berbisik, "Kau suka itu? Aku melakukannya hanya untukmu" Kalau kita saja suka memberi hadiah hadiah untuk menunjukkan kasih sayang kita,apalagi Dia?
Bisa saja Dia biarkan bumi ini datar dan berwarna abu-abu, tapi Dia tidak begitu. Dipercikan-Nya warna jingga pada matahari terbit, Dan diberi-Nya warna biru pada langit. Dan kalau kamu suka melihat sekawanan angsa yang sedang berkumpul, kamu juga pasti bisa melihatNya.
Apa Dia harus menjadikan bulu ekor musang empuk dan lembutnya? Apa Dia harus membuat burung- burung berkicau? Dan lucunya ayam berjalan tergopoh gopoh. Atau dasyatnya gelegar guntur ? Mengapa Dia memberi aroma bagi bunga? Mengapa Dia memberi rasa pada makanan? Mungkinkah itu semua karena Dia suka sekali melihat raut wajahmu? Jadi berjanjilah, kamu tidak akan lupa, bahwa kamu bukan suatu kebetulan atau kejadian.. kamu adalah karunia bagi dunia. Karya seni sorgawi, tanda tangan Allah.
(Engkau menenunku didalam kandungan ibuku, Mazmur 139:13) kamu ditenun/rajutNya, Kamu bukan produksi massal, kamu bukan hasil buatan mesin. Kamu dirancang secara khusus, diberi karunia khusus,dan ditempatkan didunia ini dengan penuh kasih.. oleh sang Pencipta Agung.
MenurutNya kamu adalah hal terindah yang melesat turun dari puncak dalam sekejap. Menolehlah kepinggir jalan, lihat, Allah sedang bersorak sorak memberimu dukungan dalam lomba lari. Coba lihat ke depan ke garis akhir, lihat Allah sedang bertepuk tangan memuji langkahmu.
Allah ada bagimu Kalau Allah punya kalender,pasti tanggal ulang tahunmu sudah di lingkari. Kalau Dia menyetir mobil, pasti namamu sudah tertulis di bemperNya, Kalau ada pohon di sorga, pasti Dia sudah mengukir namamu dibatangnya. Mungkin kamu tidak mau menggangu Allah dengan lukamu. Tetapi "Dia yang memelihara kamu" ( 1 Petrus 5:7 )
Dia menunggumu, untuk memelukmu. dalam keberhasilan dan kegagalanmu. Bapa Sorgawi sangat menyayangimu dan hanya ingin memberikan kasih-Nya kepadamu. Tanpa dibatasi oleh waktu, Allah melihat kita semua. Gelandangan & anak terlantar, semuanya. Dia melihat kita sebelum kita dilahirkan. Dan Dia suka dengan semua yang dilihatNya. Dengan luapan emosi, penuh kebanggaan,sang Pencipta bintang itu menoleh ke arah kita, satu persatu dan mengatakan "Engkau anakKu, Aku sangat mengasihimu"
Aku tahu, suatu hari nanti, engkau akan berpaling dariKu dan menjauh. Tetapi Aku ingin engkau tahu,Aku telah menyediakan jalan pulang bagimu. Kamu telah memikat hati Allah. Dia tidak sanggup hidup tanpamu. Impian Allah, membawamu dengan denganNya. Dan jalan menuju salib, memberitahu kita, sejauh apa jalan yang Allah tempuh untuk memanggil kita kembali kepadaNya. "Apa yang bisa membuatKu berhenti mengasihimu?"tanya Allah. "Ingin tahu berapa lama kasihKu akan bertahan? Lihat saja, Aku bicara dalam bahasamu,tidur diduniamu, dan merasakan sakitmu. temukan jawabannya diatas kayu salib itu,di atas bukit berbatu itu. Itulah bukti besarnya kasihKu kepadamu"
Masih banyak yang Allah lakukan selain mengampuni kesalahan kita, Dia menghapusnya!kita hanya harus membawa kesalahan kita kepadaNya. Kamu bisa bicara dengan Allah karena Allah pasti mendengarkan. Biar saja air mata menetes dipipimu Ia akan menyekanya.
Dia telah mengutus malaikat malaikat Nya untuk menjagaimu(Maz.91:11), Roh KudusNya untuk tinggal didalammu. Gereja Nya untuk mendukung mu dan pedangNya untuk mempimpin mu.
Sebesar kerinduan mu untuk bertemu dengannya, lebih besar lagi kerinduanNya untuk bertemu denganmu. Kalau kamu menyetuh hati Allah, pakai lah nama sebutan yang paling Ia sukai
panggil dia "Bapa"
Menurut Allah, kamu indah! (by Max Lucado)

Posted by Sari on May 25, '07 3:50 PM for everyone 
Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda, GA 200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.
Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya.
Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa diatas, kalau saya tidak salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat. Mudah-mudahan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat.(KOMPAS)
Rakyat kita ini memang High class.. Handphone nya Mahal, Transportasi pake pesawat. Tapi bodohnya gk ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli. Orang indonesia harus selalu belajar dengan cara yang keras. Buat yang belum tahu, kenapa Gk boleh menyalakan Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:
Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru "take-off" dari Lanud Polonia -Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui dengan pasti.
Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya. Ternyata menurut sumber informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat terbang.
Contoh kasusnya antara lain:
Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja "take-off" dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat. Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor dibagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.
Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang "final approach" untuk "landing" di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).
Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.
Para "pelanggar hukum" itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance) terhadap kenyamanan orang lain.
Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.
Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat: Arah terbang melenceng,Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi, Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar,Gangguan sistem kemudi otomatis, Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh gameboy Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.
Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.
Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.
Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).(Varis/ pertamina)
Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama? Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.
Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.
(aku dapat email dr seorang teman dan sepertinya penulis asli email ini adalah: Susi Windiawati IS Area Medan - mudah2an info ini bisa jadi pelajaran buat kita semua)
* foto aku 'pinjem dari www.ayofoto.com karya Yudha

Posted by Sari on May 24, '07 1:37 AM for everyone > > A Woman and a Fork ..... There was a young woman who had been diagnosed with a terminal illness and had been given three months to live. So as she was getting her things "in order," she contacted her Rabbi and had him come to her house to discuss certain aspects of her final wishes. > > She told him which songs she wanted sung at the service, what scriptures she would like read, and what outfit she wanted to be buried in. Everything was in order and the Rabbi was preparing to leave when the young woman suddenly remembered something very important to her."There's one more thing," she said excitedly."What's that?" came the Rabbi's reply."This is very important,"the young woman continued. "I want to be buried with a fork in my right hand."The Rabbi stood looking at the young woman, not knowing quite what to say."That surprises you, doesn't it?" the young woman asked. "Well,to be honest, I'm puzzled by the request," said the Rabbi. The young woman explained. "My grandmother once told me this story, and from there on out, I have always done so. I have also, always tried to pass along its message to those I love and those who are in need of encouragement. In all my years of attending socials and dinners, I always remember that when the dishes of the main course were being cleared, someone would inevitably lean over and say, 'Keep your fork.' It was my favorite part because I knew that something better was coming...like velvety chocolate cake or deep-dish apple pie. Something wonderful, and with substance!' So, I just want people to see me there in that casket with a fork in my hand and I want them to wonder "What's with the fork?" Then I want you to tell them: "Keep your fork ..the best is yet to come." The Rabbi's eyes welled up with tears of joy as he hugged the young woman good-bye. He knew this would be one of the last times he would see her before her death. But he also knew that the young woman had a better grasp of heaven than he did. She had a better grasp of what heaven would be like than many people twice her age, with twice as much experience and knowledge. She KNEW that something better was coming.
> > At the funeral people were walking by the young woman's casket and they saw the cloak she was wearing and the fork placed in her right hand. Over and over, the Rabbi heard the question "what's with the fork?" And over and over he smiled. During his message, the Rabbi told the people of the conversation he had with the young woman shortly before she died. He also told them about the fork and about what it symbolized to her. The Rabbi told the people how he could not stop thinking about the fork and told them that they probably would not be able to stop thinking about it either.
> > He was right. So the next time you reach down for your fork, let it remind you ever so gently, that the best is yet to come. Friends are a very rare jewel indeed. They make you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their hearts to us. Show your fiends how much you care. Remember to always be there for them, even when you need them more. For you never know when it may be their time to "Keep your fork." Cherish the time you have, and > the memories you share... being friends with someone is not an opportunity but a sweet responsibility.
Posted by Sari on May 24, '07 12:15 AM for everyone  Seorang Pembunuh......!
Oleh : Reza Gardino
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan Indonesia ! 
Posted by Sari on May 23, '07 11:25 PM for everyone  When, in disgrace with fortune and men's eyes, I all alone beweep my outcast state And trouble deaf heaven with my bootless cries And look upon myself and curse my fate, Wishing me like to one more rich in hope, Featured like him, like him with friends possess'd, Desiring this man's art and that man's scope, With what I most enjoy contented least; Yet in these thoughts myself almost despising, Haply I think on thee, and then my state, Like to the lark at break of day arising From sullen earth, sings hymns at heaven's gate; For thy sweet love remember'd such wealth brings That then I scorn to change my state with kings.

Posted by Sari on Apr 26, '07 1:09 PM for everyone  I hide myself within my flower, That wearing on your breast, You, unsuspecting, wear me too -- And angels know the rest. I hide myself within my flower, That, fading from your vase, You, unsuspecting, feel for me Almost a loneliness.

Posted by Sari on Apr 26, '07 12:53 PM for everyone 
She walks in beauty, like the night Of cloudless climes and starry skies; And all that's best of dark and bright Meet in her aspect and her eyes: Thus mellowed to that tender light Which heaven to gaudy day denies.
One shade the more, one ray the less, Had half impaired the nameless grace Which waves in every raven tress, Or softly lightens o'er her face; Where thoughts serenely sweet express How pure, how dear their dwelling place.
And on that cheek, and o'er that brow, So soft, so calm, yet eloquent, The smiles that win, the tints that glow, But tell of days in goodness spent, A mind at peace with all below, A heart whose love is innocent!
- Lord Byron

Posted by Sari on Apr 25, '07 10:37 PM for everyone 
Tie your heart at night to mine, love, and both will defeat the darkness like twin drums beating in the forest against the heavy wall of wet leaves.
Night crossing: black coal of dream that cuts the thread of earthly orbs with the punctuality of a headlong train that pulls cold stone and shadow endlessly.
Love, because of it, tie me to a purer movement, to the grip on life that beats in your breast, with the wings of a submerged swan,
So that our dream might reply to the sky's questioning stars with one key, one door closed to shadow.

Posted by Sari on Apr 25, '07 3:30 PM for everyone  Ten thousand flowers in spring, the moon in autumn, a cool breeze in summer, snow in winter.
If your mind isn't clouded by unnecessary things, this is the best season of your life.
Posted by Sari on Apr 25, '07 3:19 PM for everyone  Wonder, A garden among the flames!
My heart can take on any form: A meadow for gazelles, A cloister for monks, For the idols, sacred ground, Ka'ba for the circling pilgrim, The tables of the Torah, The scrolls of the Quran.
My creed is Love; Wherever its caravan turns along the way, That is my belief, My faith.
Posted by Sari on Apr 25, '07 2:37 PM for everyone  I am a kind word uttered and repeated By the voice of Nature; I am a star fallen from the Blue tent upon the green carpet. I am the daughter of the elements With whom Winter conceived; To whom Spring gave birth; I was Reared in the lap of Summer and I Slept in the bed of Autumn.
At dawn I unite with the breeze To announce the coming of light; At eventide I join the birds In bidding the light farewell.
The plains are decorated with My beautiful colors, and the air Is scented with my fragrance.
As I embrace Slumber the eyes of Night watch over me, and as I Awaken I stare at the sun, which is The only eye of the day.
I drink dew for wine, and hearken to The voices of the birds, and dance To the rhythmic swaying of the grass.
I am the lover's gift; I am the wedding wreath; I am the memory of a moment of happiness; I am the last gift of the living to the dead; I am a part of joy and a part of sorrow.
But I look up high to see only the light, And never look down to see my shadow. This is wisdom which man must learn.

Posted by Sari on Apr 24, '07 2:40 AM for everyone  Semalem sebelum bobo, aku dan sayangku ngobrol ngalor ngidul.. Trus aku tanya... 'sayang, menurut kamu cinta itu apa?' Dengan muka lucunya dia jawab.... 'gak tau...menurut kamu?' (hahahah sebel gak sih dia bilang cinta sama aku tapi gak tau cinta itu apa...payah...hehehe) Dia sembari megangin kakiku, elus elus...tapi mukanya bingung mau ngomong cinta itu apa... Trus aku bilang... 'kalo cinta itu benih, kan harus di sirami, pupuk supaya tumbuh dengan baik...' langsung setuju dia, 'iya setuju-setuju' Trus aku tanya apa lagi.... 'jadi cinta kita benih pohon apa?' Hmmm dia mikir lagi... Aku juga sembari mikir...apa ya... eh dia bilang... 'cinta kita kayak tanaman rambat yang sebenernya gak ada gunanya, tapi canti bunganya, trus bisa nutupin tembok yag jelek supaya kelihatan cantik...' hahhhahahah aku setuju!!! soalnya aku juga mikir gitu...cinta kita tanaman rambat...yg indah yg berbunga biru muda, nutupin tembok yg bopak karena plesternya hilang, merambati kawat untuk memberi kerindangan, tapi tanaman itu 'gak berguna'...
so cinta kami itu bagai pohon rambat yg gak berguna, tapi indah heheheheh

Posted by Sari on Apr 23, '07 8:16 PM for everyone  Semalam di 'surprise party' nya Mbak Ratna Riantiarno yang ke 55, banyak muka-muka terkenal yang memang benar-benar terkenal dari aku masih kecil dan juga 'celebrity' kini. Jajang C Noor, Henky Sulaiman, Eros Djarot , Samuel Wattimena, Debra Yatim, Wulan Guritno, Olga Lidyadan masih banyak lagi.
Tapi yang paling menyenangkan adalah..... ini dia... Slamet Rahardjo....wah udah aktor paling cakep menurut aku dan masih tetep cakep, juga menurut aku...heheheh dia bilang ke aku...... "ini dia Koeswoyo yang paling cantik"
waaaaaaaaaaaaaaaaaaa seneng gak sih!!!!!!!!!!!! aku langsung super super super senang!!! dan aku peluk Mas Slamet sembari bilang bahwa Mas Slamet masih TETAP aktor TerGANTENG yang aku pernah lihat di perfilman Indonesia!!!!
Happy banget gak sih di bilang cantik sama SLAMET RAHARDJO?! Kata Slamet Rahardjo aku cantik.....CIHUY!!!!
* GR gak sih aku..... :)

Posted by Sari on Apr 13, '07 6:13 AM for everyone  cinta itu indah... karena ada setiap hari setiap waktu setiap tarikan nafas kita.. ada cinta.... 
Posted by Sari on Feb 14, '07 5:35 AM for everyone 
Malik bin Dinar, sangat marah karena seorang pemuda yang hidup di sebelah rumahnya bertindak kurang ajar. Lama ia tidak berbuat apa-apa. Ia berharap orang lain akan turun tangan. Tetapi setelahperilaku pemuda itu sungguh keterlaluan, maka Malik menegurnya, agar ia mengubah kelakuannya.
Pemuda itu dengan tenang memberitahu Malik, bahwa ia dilindungi oleh sultan dan tak seorang pun dapat menghalangi apapun yang dikehendakinya.
Malik berkata : "Aku sendiri akan mengadu kepada Sri Sultan". Pemuda itu menanggapi : "Sama sekali tidak ada gunanya. Sebab, Sri Sultan tidak pernah berubah pandangan mengenai diriku". "Kalau begitu engkau akan kulaporkan kepada Pencipta di surga!" kata Malik. "Pencipta di surga?", tukas pemuda itu."Ia Maha rahim sehingga tidak akan mempersalahkan aku!"
Malik tidak dapat berbuat apa-apa. Maka ditinggalkannya pemuda itu. Tetapi beberapa waktu kemudian nama pemuda itu menjadi begitu jelek, hingga orang banyak pun menentangnya. Malik merasa wajib untuk mencoba memperingatkannya lagi. Ketika ia berjalan menuju rumah pemuda itu, ia mendengar Suara dalam batinnya : "Awas! Jangan menyentuh sahabatku. Ia ada dalam perlindunganKu." Malik mejadi bingung. Waktu bertemu muka dengan pemuda itu, ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
Pemuda itu bertanya: "Mengapa engkau datang?" Jawab Malik : "Aku datang untuk menegurmu, tetapi di tengah jalan kudengar Suara yang melarangku untuk menyinggungmu karena engkau berada di bawah perlindunganNya." Wajah pemuda begajulan itu berubah : "Benarkah Ia menyebut aku sahabatNya?", tanyanya. Tetapi pada saat itu Malik sudah meninggalkan rumahnya.
Bertahun-tahun kemudian Malik berjumpa dengannya di Mekah. Ia begitu tersentuh oleh perkataan Suara itu, sehingga ia membagi-bagikan seluruh harta bendanya dan menjadi pengemis pemgembara.
"Aku datang kemari untuk mencari Sahabatku", katanya kepada Malik. Lalu ia meninggal.
Tuhan sahabat orang berdosa? Pernyataan ini amat berbahaya, sekaligus berkekuatan luar biasa. Aku pernah mencobanya pada diriku sendiri, ketika aku berkata : "Tuhan Maha Rahim sehingga tidak akan mempersalahkan aku". Dan tiba-tiba aku mendengar Kabar Gembira pertama kali dalam hidupku.

Posted by Sari on Feb 14, '07 3:27 AM for everyone  Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.
Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidakbekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.
John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. " Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah saya punya uang."
John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.
Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."
Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, " Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. "Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?" " Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.. " Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."
Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tsb pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, Sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.. Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak.
Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: "Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu." Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.
Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.
Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.
KEKUATAN SEBUAH DOA Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa..Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.
Lalu kirimkanlah kepada sahabat-sahabat anda Biarlah jaringan ini tidak terputus, karena:
DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA.

| |