Sari's posts with tag: art

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag art
Posted by Sari on Dec 19, '07 9:25 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
theese are the artwork of Teguh Ostenrik at Bukit Salib in Tomohon , North Sulawesi.

These depicted the Passion of Christ...

Posted by Sari on Jun 1, '07 8:59 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
ini satu lukisanku yang terselamatkan dari pindah-pindah rumah melulu..
kayaknya ini kulukis tahun 95/96 deh...uuhhh lupa...

Posted by Sari on Aug 21, '06 9:35 AM for everyone
Link: http://indonesiancommunity.multiply.com/photos/album/73

postingan ku di tetangga...

Posted by Sari on Aug 19, '06 11:11 AM for everyone
Dear Friends of Art,

You are cordially invited to the opening of painting exhibition of
Bali On The Spot by nine artists.

Sidharta Fine Art & Graha Tirtadi look forward to having you at :
Graha Tirta Building 2nd floor
Jl. Raden Saleh No. 20, Jakarta

Opening remarks by
Mrs. Miranda Goeltom
Wednesday, August 23, 2006
07.00 pm


RSVP
Joan or Titik
021 727 88384
021 727 88366
info@sidharta-auctioneer.com




Posted by Sari on Aug 17, '06 9:49 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


*Amir Sidharta & Sari Koeswoyo

S. Sudjojono, perupa yang kini kita kenal sebagai Bapak Senirupa Modern Indonesia, lahir di Kisaran, Sumatra Utara pada tahun 1913. Ketika itu orangtuanya bekerja sebagai karyawan perkebunan di Deli. Dalam usia yang masih sangat muda, orangtuanya menitipkan Sudjojono kecil untuk ngenger (diasuh dan dibimbing bekerja) pada seorang guru bernama Yudhokusumo. Ketika Yudhokusumo dan keluarganya hijrah ke Jakarta (ketika itu masih disebut Batavia), Sudjojono pun turut serta, dan menuntut ilmu di Sekolah Arjuna dan guru seni rupanya pada saat itu adalah Mas Pirngadi. Setelah lulus, Sudjojono melanjutkan sekolahnya ke Taman Siswa, dan juga melanjutkan studi di sekolah guru di Lembang dan Yogyakarta dan mengajar di Rogojampi, Jawa Timur.
Pada saat Sudjojono mengajar di Rogojampi, kehidupannya sangat sulit, dan ia pun kurang memperhatikan kesehatannya sehingga akhirnya ia terserang TBC dan harus kembali ke Jakarta. Akhirnya ia pun bolak-balik dirawat di sanatorium Pulau Onrust. salah sau pulau di Kepulaunan Seribu. Ketika ia kembali ke Jakarta Sudjojono belajar seni lukis pada Chiyoji Yazaki seorang perupa dari Jepang yang kebetulan sedang bekerja di sana.
Ketika Bataviasche Kunstring (Lingkar Seni Batavia) mengadakan pameran yang terbuka bagi seluruh perupa yang bekerja di Hinda Belanda di akhir tahun 1930an, karya Sudjojono terpilih untuk ikut pameran. Rasa percaya dirinya bangkit. Ternyata, karya-karya perupa Indonesia tidak kalah dari karya para perupa asing.
Pada tahun 1937, Sudjojono bersama teman-temannya mendirikan Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi). Mereka berupaya mengadakan pameran-pameran untuk menunjukan kepada khalayak ramai bahwa hasil karya perupa-perupa Indonesia tidak kalah dengan perupa-perupa asing.
Sudjojono mulai memperhatikan bahwa pelukis pelukis Mooi Indië (Hindia Molek) baik pelukis asing maupun pribumi semata-mata hanya memperlihatkan keindahan alam secara romantis. Padahal tentunya keadaan kehidupan di negeri ini pada saat itu sesungguhnya negeri ini tak seindah yang tampil dalam lukisan. Kebetulan, antara tahun 1935-1939 karya-karya perupa modern dunia, termasuk Marc Chagall, Giorgio De Chirico, Kees van Dongen, Charles Dufresne, James Ensor, Vincent van Gogh, dan bahkan Pablo Picasso, yang di miliki seorang Regnault, pengusaha cat di Surabaya sempat dipamerkan di Batavia.
Karya-karya modern itu tentu saja mempengaruhi karya Sudjojono dan rekan-rekannya. Sampailah Sudjojono pada kesimpulan bahwa senirupa seharusnya mengekspresikan kenyataan yang ada, bukan semata romantisme. Senilukis harus menunjukan jiwa sipelukis itu sendiri. “Seni lukis adalah Jiwa Ketok”, gagasnya, dan sejak saat itulah ia juga mulai menekuni seni lukis sebagai profesinya.
Walau pun karya-karya Sudjojono pada masa itu, misalnya Cap Go Meh (1940), memang cenderung sangat ekspresif, namun sebenarnya bukanlah berarti dirinya itu anti-keindahan. Lukisannya yang sangat terkenal, Di Balik Kelambu Terbuka (1939-40), memperlihatkan sosok perempuan yang mengandung banyak kesedihan dan penderitaan. Hal itu berhasil diekspresikannya dengan pengamatan psikologis yang cermat terhadap terhadap raut wajah dan jestur tubuh figur yang dilukisnya, namun ia pun sangat memperhatikan unsur estetika dalam penciptaan citra tersebut. Jadi, dalam keindahan karya itu, kita dapat melihat pula keadaan diri sebenarnya dari figur yang dilukis.
Di masa pendudukan Jepang Sudjojono menikah dengan Sasmiya “Mia” Sasmojo dan bersama reka-rekan Persagi aktif dalam Lembaga Kebudayaan Keimin Bunka Shidoso juga aktif memberikan banyak pelatihan pada para pelukis muda.
Sudjojono pindah ke Madiun pada saat pecah perang revolusi, dan bersama rekan-rekan lain ia mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM). SIM lalu pindah ke Solo untuk lebih mendekat ke pusat pemerintahan Yogyakarta. Selain sebagai pelukis Sudjojono juga terkenal sebagai kritikus seni dan pada saat inilah kumpulan tulisannya diterbitkan di Yogyakarta dalam sebuah buku yang amat sederhana.
Dengan kelompok SIM nya, Sudjojono mendokumentasikan perjuangan melalui seni lukis dengan peralatan yang amat sangat terbatas. Sudjono melukis “Kawan-Kawan Revolusi” yang memperlihatkan potret-potret para pejuang, yang termasuk di dalamnya rekan-rekan yang tergabung dalam SIM. Lukisan ini sekarang berada dalam koleksi Presiden Soekarno.
Keluarga Sudjojono pindah ke Yogyakarta dan menetap di dekat desa Prambanan. Saat terjadi clash ke dua di akhir tahun 1948 keluarga mereka terkena serangan dan pada saat ayah Sudjojono mencoba melarikan diri, ia tertembak dan wafat. Keadaan yang sangat memukul itu membuat Sudjojono kembali memikirkan keseniannya. bahwa untuk menunjukan kenyataan pahit dengan sebenar-benarnya ia harus berpaling ke Realisme.
Pada tahun 1949, Trisno Sumardjo menulis artikel tentang Sudjojono dan menjulukinya “Bapak Seni Lukis Indonesia”, namun tak lama kemudian kritikus seni itu pun mempertanyakan Realismenya. Memang saat Sudjojono beralih ke Realisme banyak orang berpikir bahwa ini diakibatkan oleh kedekatannya dengan kaum sosialis dan komunis dan Realisme Sosial mereka.
Sudjojono di awal 1950an memang memperlihatkan perkembangan dan ketekunannya dalam teknis melukis realistis.
Namun terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di tahun 1955, ia menelantarkan dunia seni lukisnya. Walaupun akhirnya is sadar bahwa politik bukanlah dunianya, ia sudah kehabisan inspirasi, potret orang–orang yang dilukisanya menjadi sangat membosankan karena hanya mengandalkan teknis yang tinggi saja, dan seolah kehilangan “jiwa”nya.
Pada saat Sudjojono berpergian ke Eropa di awal 1950an, ia berkenalan dengan Rosalina (Rose) Poppeck yang pada saat itu tinggal di Belanda. Mereka pun bertemu kembali di Jakarta dalam sebuah Konferensi Perdamaian. Rose, seorang biduan mezzo-sopran yang cantik, ternyata membangkitkan kembali inspirasi Sudjojono untuk melukis. Karya-karyanya mengalami perubahan, sebagaimana dapat terlihat dalam karya Piano di tengah Reruntuhan (1956) yang simbolistis. Di tengah kekacauan dan kebingungan, sebuah piano menanti untuk dimainkan. Sudjojono menunjukan kemahirannya melukis karya-karya menarik dalam kanvas-kanvas besar. Hubungan antara Sudjojono dan Rose pun mulai bersemi menjadi bunga-bunga asmara. Dan ketika dia diancam diberhentikan sebagai anggota DPR karena hubungan samaranya, ia memilih Rose. Dan dia memutuskan untuk ‘meraih hari ini’ atau ‘carpe diem’ melalui lukisan Sodom dan Gomorah(1956).
Mereka bercerai dengan pasangan masing-masing dan menikah di tahun 1959. Sejak itu Sudjojono berkonsentrasi melukis keindahan-keindahan di sekitarnya. Kehidupannya sehari-hari dengan Rose dan anak-anaknya sering menjadi subyek utama dalam lukisannya.
Sejak menantikan anak pertama mereka Rosalina diberi nama Rose Pandanwangi. Dan pada awal tahun 1959 Rose memenangkan sayembara Bintang Radio Republik Indonesia, dan sejak itu Rose aktif berkonser. Bunga-bunga yang diterima oleh Rose sering dijadikan subyek oleh Sudjojono. Ketika menyanyikan The Lord’s Prayer sosok Rose dilukiskan bukan hanya sangat indah tapi juga dengan ekspresi keheningan jiwa sang penyanyi dalam melantunkan pujiannya kepada Yang Maha Kuasa. Selain Rose istrinya, Maya anak bungsu mereka paling sering dijadikan model untuk karya lukisnya.
Sudjojono juga sering menggambarkan pemandangan, apakah itu pemandangan dari kehidupan nyata dilihatnya ketika bepergian bersama keluarga atau sahabat-sahabatnya, atau pun pemandangan imaginer dari khayalan dan kenangannya Pemandangan imaginer lain seringkali muncul dalam latar belakang lukisan-lukisan portret yang digambarkannya. Di latar belakang kaya Zaman Emas yang merupakan portret simbolis yang menampilkan sosok Maya, anaknya, Sudjojono menggambarkan “Istana-istana Impian” yang menurutnya hanya dapat dihadirkan dalam lukisan dan belum mungkin dapat ia berikan dalam kenyataan.
Beberapa pemandangan yang dihasilkannya menampilkan sosok perempuan di tepi danau atau laguna berbukit, menatap ke arah laut menantikan kedatangan kapal. Pemandangan romantis itu, ternyata terinspirasi oleh kisah tragis opera Madame Butterfly karya Puccini di mana mantan geisha Cio-cio San menantikan kembalinya kekasihnya Kapten Angkatan Laut Amerika Serikat Pinkerton. Rose Pandanwangsi memang pernah menjadi diva dalam opera tersebut dan bahkan Sudjojono sempat menggambarkan beberapa set panggung tentang opera itu.
Sudjojono tetaplah seorang yang optimis walaupun terkadang karya-karyanya terkesan sinis dan dan kadang-kadang dengan peka ia membuat pernyataan-pernyataan yang cukup kritis melalui karya-karya seninya. Ia membuat beberapa lukisan yang merupakan komentar sosial terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan deformasi ia bebas mengubah bentuk figur-figur sosok dan tokoh yang dilukisnya. Hal itu tercermin dalam dua karyanya. Yang pertama, Si Optimis merupakan potret dirinya yang dibuat secara cukup realistik. Di tangan kanannya tergenggam bunga mawar sebagai lambang dari Rose istrinya dan keluarganya serta kuas sebagai lambang dari seni lukis, profesinya. Karya yang kedua, Sip Dalam Segala Cuaca, menampilkan sosok yang terdeformasi mengendarai sepeda dengan payung di tangan yang satu, sementara dengan penjepit di tangan yang lain ia mengambil puntung rokok. Di atas kepala sosok itu, terdapat botol yang di atasnya terdapat beberapa lambang: Rose, Maya, pohon randu dan “Istana Impian” Sudjojono. Sebagai seniman, tanggung jawab yang berat membahagiakan keluarganya, dipikulnya dengan senang hati.
Dua karya di atas memperlihatkan luasnya kemahiran senirupa Sudjojono. Karyanya ada yang realis dan serius serta yang ekspresif dan sinis atau pun jenaka. Sebenarnya sudah melukis di antara dua kutub ini sejak akhir tahun 1930an, sebagaimana dapat kita lihat dalam karya Cap Go Meh dan Di Balik Kelambu Terbuka. Namun, tentunya dalam perjalanan karirnya sebagai pelukis selama lebih dari setengah abad, ia sudah lebih jauh lagi berkembang.


Posted by Sari on Aug 17, '06 9:14 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
The Mortal Body of Earth in Pursuit of Humanity
By Amir Sidharta


Thirteen years ago, when I first met Teguh Ostenrik, a gigantic canvas measuring almost two meters in height and spanning nine meters in length was displayed in his studio in Pondok Cina, Depok, south of Jakarta. The impressive painting, entitled Homo Sapiens Masquerade, depicted various figures engaging in intense interaction. Painted in 1978-79, the piece conveys a solemn message, questioning the superficiality and conceit of humankind.
The painting became a landmark in the artist’s career. Much of the development of his latter art works has been based on this piece in terms of theme as well as style. Through the pieces he continues to explore the questions about humankind. He does so using representations of the human body that is executed in a style that is characteristically his own. Although the human forms in his art works are filled with energy, they do not convey a sense of movement but rather evoke contemplation. This can be seen in the development of his works spanning from Homo Sapiens Masquerade to the Corpus Terrae sculptures in this exhibition.
Teguh has never considered himself as merely as a painter or sculptor. As a full-fledged artist, he explores various modes of artistic expression. In fact, I first learnt about him as a performance artist back in the second half of the 1980s, after he did a piece at the Polos Gallery in Legian, Bali. He has always explored different media ranging from the conventional: pencil, pastels, oils, acrylics, to the more experimental. In Jakarta in 1990, he planned to construct an installation using fragments of the Berlin wall. In 1994, he created a pyramid using bricks fabricated out of plastic waste in Munduk, North Bali. After the 1998 riots and political reformation in Indonesia, the artist became intrigued with video and made a number of video art pieces.
While experimenting with various and often times even unconventional media, throughout his artistic life he has always utilized terracotta as one of his most basic and most significant media. In 1994, he started to create multiple tile terracotta relief panels, as further development of Homo Sapiens Masquerade. Today Teguh’s terracotta panels appear in many public spaces around the world and hence have become his signature pieces. Yet, in fact, his first terracotta pieces appeared earlier, when he started to work on Homo Sapiens Masquerade in 1976. The earthen colors predominant in Homo Sapiens Masquerade evidences the significance and influence of terracotta in his works of that period.
When the artist exhibited his first terracotta pieces —then consisting only of singular tiles— at the Mitra Budaya, Jakarta, in 1980, most of the visitors to the exhibition did not seem to appreciate his work. He said that some even asked him why he used such a crude medium and why it was not glazed.
On the other hand, when his mother saw the pieces, she shed tears, and reminisced about how the very young Teguh would smoothen the surface of earth on the ground, and draw on it. The artist suddenly realized that what he was doing with terracotta is based on a very early artistic experience that he had taken for granted or even forgotten.
Even the methods of the artist’s recent work in terracotta relief draws influence from childhood days. In his recent panels, he does not form three-dimensional bas-reliefs. Rather, he treats his panels as a layer of earth, which he delineates and modulates to evoke its three-dimensionality.
Teguh Ostenrik’s Corpus Terrae sculptures in this exhibition have also been created as a further development of the Homo Sapiens Masquerade and terracotta reliefs. After the figurative forms have taken shape, he further modulates them, coating them with layers of terracotta. In the end, the human character of the artistic process as well as earthen properties of the media that is used in this process are expressed in the metal sculptures that become the end product. Teguh Ostenrik’s sculptures are not expressive or dynamic in appearance, but rather they are quiet pieces meant to evoke thought and emotion. The qualities of media and process used in his works enhance the contemplative spirit of the sculptures.
His sculptures not only evoke contemplation among its viewers, but more interestingly to the artist himself. Like the words “Ashes to ashes, dust to dust,” which are usually spoken at funerals or burials, modelled after God’s address to Adam, “Dust thou art, and unto dust thou shalt return” (Genesis 3:19), the Corpus Terrae sculptures act as reminders of the artist’s origins, his beginnings, as well as his mortality. Yet, we can rest assured that Teguh will not allow contemplation on origins and mortality to burden himself with guilt, but rather enhance and challenge his creativity even further.
Perhaps the awareness of his origins and mortality has also made the artist very much conscious of the importance of preserving the environment through the processes of recycling. In his sculptures, he does so by purposely recycling used metals obtained from old keys, knives, wires and other things that are no longer of use, bought from scrap vendors and flea markets. The used objects are smelted and processed into the metals used in his sculpture. While God creates humankind out of dust, the artist creates art works out of scrap metals.
However, Teguh’s art has indeed always centered on humankind. He presents interpretations of various themes of human life, human thought and human existence using the universal human figures in his art works. Rather than attempting to create figures with specific identities, his Corpus Terrae sculptures —like all works related to his Homo Sapiens Masquerade— consist of human figures almost devoid of distinguishing identities. In fact, he is not merely making visual representations of daily life scenes, but rather, exploring universal issues of human existence. Teguh Ostenrik’s twenty-eight pieces of sculpture featured in this exhibition evidence a high point in his artistic career and pursuit of humanity.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help