Sari's posts with tag: renungan
Posted by Sari on Aug 21, '07 11:32 PM for everyone ** copy paste dr milis tetangga...
Rekans, Berhati-hatilah bila melihat mobil Ford Everest biru, dengan nomer polisi B 2708 CF. Ciri lainnya terdapat plakat DPR-MPR RI didekat nomor polisi bagian depannya. Pengemudinya berkulit hitam, berbadan tegap, berusia sekitar 30an , berambut cepak agak plontos.
Adapun kronologis kejadian menurut adikku yang korban dan saksi setempat , Pada tanggal 18-08-07, sekitar jam 10.45 terjadi serempetan antara mobil Ford dan mobil Avanza yang dikendarai oleh adik saya di kompleks perumahan Taman Permata, Karawaci. Akibat dari kejadian itu, bemper kanan belakang (tepatnya diatas roda belakang sebelah kanan) mobilku copot.
Setelah tabrakan itu, pengemudi mobil ford biru itu turun dari mobil, langsung lari menghampiri mobil adik saya yang saat itu baru memberhentikan mobilnya. Pengemudi mobil ford itu langsung turun melayangkan tinjunya berkali-kali ke arah wajah adik saya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu mobilku, mencabut kunci yang masih melekat pada kontaknya, mengambil dompet adik saya yang tergeletak di kursi penumpang sebelah kanan, dan pergi meninggalkan adik saya yang masih belumuran darah dan mobilnya di TKP begitu saja.
Dengan dibantu oleh tukang ojek dan satpam, adik saya diantar pulang kerumah. Pada saat itu saya yang sedang berada dirumah sendirian sangat panik melihat keadaannya yang babak belur dan berlumuran darah diseluruh mukanya. Saat itu, saya ingin segera mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan pertama, saya baru teringat akan kunci mobil dan stnk yang masih ditahan oleh 'jagoan bermobil biru itu'.
Indetitas 'jagoan' itu yang akhirnya diketahui bernama Ilham dari petugas keamanan setempat, sehigga saya, dengan diantar oleh 2 orang satpam itu ke rumahnya utk mengambil kembali kunci mobil guna mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.
Apa yang terjadi kemudian, benar sangatlah diluar dugaan, Jagoan tersebut sudah menunggu kami didepan rumahnya dengan berkacak pinggang.
Saat itu, saya yang masih kebingungan segera menanyakan kunci mobil dan dompet yang berisikan STNK, itu akan tetapi langsung dibentak oleh JAGOAN itu, supaya saya jangan menanyakan kunci dan STNK mobil itu, atau saya juga akan dipukul seperti adik saya.
Sebagai seorang wanita, saya tetap bersikeras untuk meminta kembali kunci mobilnya, guna mengantarkan adik saya untuk mendapatkan pertolongan segera, karna darah semakin banyak mengucur dari luka adik saya. Bukan kunci mobil yang saya terima, akan tetapi tamparan dan tinju berkali-kali diarahkan JAGOAN itu ke muka saya, untung saja, ada 2 orang petugas satpam yang sangat sigap melindungi saya dari serangan brutal JAGOAN itu, sehingga hanya mata kanan saya yang memar dan pendarahan pada bola mata saya. Tidak puas karna saya berhasil diselamatkan oleh petugas satpam tersebut, JAGOAN tersebut mengancam akan MENGHABISI saya dan adik saya. ' Awas kamu, Saya TEMBAK kamu, saya matikan kamu berdua'.
Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan buat saya dan adik saya, petugas satpam tersebut segera mengungsikan kami kakak beradik berdua. Kunci mobilku masih enggan dikembalikan, akan tetapi setelah berulangkali petugas keamanan menasehati bahwa dia tidak punya hak menahan kunci mobil, dompet berserta STNK kami, baru dia mengembalikannya kepada pak satpam. Saat ini, kasus ini sudah saya laporkan ke kantor polisi setempat, untuk pengusutan selanjutnya, dengan nomor laporan polisi 683/K/VIII/2007/ SEK.CURUG.
Setau saya pernah dilakukan pemeriksaan dan penertiban terhadap mobil berplakat indetitas DPR MPR RI, bagaimana dengan JAGOAN ini???)
Apakah memang benar dia adalah anggota DPR MPR RI dengan plakat identitas yang melekat di mobilnya???? Apakah benar seseorang dapat seenaknya saja memukul orang???? Benarkah seorang pria dewasa menganiaya seorang wanita yang sedang panik melihat darahnya mengucur semikian deras dari luka adiknya??? Bisakah seenaknya seseorang menghabisi nyawa orang lain??? Apakah fungsi senjata itu??? Jikalau memang dia punya?? Apakah benar kegunaannya untuk mengancam dan menembak orang lain????
Masih adakah jaminan keselamatan dan perlindungan hukum di Negara Indonesia ini, disisi lain kita punya kewajiban untuk membayar pajak ke Negara???
Tolong disebarluaskan email ini, supaya cukup kami saja yang mengalami hal seperti ini, jangan ada lagi kasus kedua dan ketiga yang mengalami nasib seperti kami. Kami mohon doa dan dukungan dari teman-teman sekalian, semoga keadilan dapat benar-benar ditegakan di bumi Indonesia ini, sehingga tidak ada yang namanya main hakim sendiri.
Kejadian ini ada benar adanya…,rekan-rekan sekalian dapat mengeceknya langsung ke kantor polsek curug dengan nomor laporan yang sudah saya sebutkan diatas, atau dapat menghubungi email saya felyshia@hotmail. com
Terima kasih,
Posted by Sari on Jun 2, '07 2:05 AM for everyone  [Krishnamurti diundang memberikan ceramah umum di depan Perhimpunan "Pacem in Terris", PBB, pada 11April 1985, di mana ia menerima penghargaan Medali Perdamaian PBB. Ketika itu K berusia 90 tahun, kurang dari setahun sebelum ia meninggal dunia pada Februari 1986.]
“Manusia Tidak Menemukan Kebahagiaan di Dunia” KRISHNAMURTI DI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 11 APRIL 1985
Saya diminta bicara tentang [kemungkinan] Perdamaian Dunia di kemudian hari sesudah ulang tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ke-40.
Umat manusia, manusia, telah hidup di muka bumi ini lebih dari lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama atau lebih pendek. Sepanjang masa evolusi yang lama itu, manusia tidak menemukan kebahagiaan di dunia--“Pacem in Terris” [“Damai di Bumi”] telah dikhotbahkan lama sebelum Agama Kristen tiba, oleh orang Hindu dan Buddhis di zaman kuno. Dan sepanjang masa itu manusia telah hidup dalam konflik, bukan hanya konflik dengan tetangganya, tetapi dengan orang-orang di dalam komunitasnya sendiri, dengan masyarakatnya sendiri, dengan keluarganya sendiri; ia telah berkelahi, bergulat dengan sesama manusia sepanjang lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama lagi. Sepanjang sejarah, terjadi perang hampir setiap tahun. Dan kita masih berperang sampai sekarang. Saya rasa, ada empat puluh perang berlangsung pada saat ini. Dan hirarki keagamaan, bukan hanya kaum Katolik, tetapi juga golongan-golongan lain, telah bicara tentang “Pacem in Terris”, “Damai di Bumi”, “Kehendak Baik di antara Manusia.” Itu tidak pernah terwujud--damai di bumi. Dan mereka bicara tentang kedamaian ketika Anda meninggal dan pergi ke surga dan Anda menemukan kedamaian di sana.
Kita bertanya-tanya, jika kita memang serius, mengapa manusia membunuh manusia lain--atas nama tuhan, atas nama perdamaian, atas nama ideologi tertentu, atau demi negaranya--apa pun artinya itu--atau demi Raja atau Ratu, dan segala macam itu. Mungkin kita tahu semua ini: bahwa manusia tidak pernah hidup [bahagia] di muka bumi, yang perlahan-lahan tengah dihancurkan- -dan mengapa kita tidak bisa hidup damai dengan sesama manusia lain. Mengapa ada bangsa-bangsa yang saling terpisah, yang bagaimana pun juga hanyalah kesukuan yang diagungkan. Dan agama-agama, entah Kristianitas, Hinduisme atau Buddhisme, mereka juga berperang satu sama lain. Bangsa-bangsa saling berperang, kelompok-kelompok saling berperang, ideologi-ideologi- -entah Rusia, atau Amerika, atau kategori ideologi lain--mereka semua berperang satu sama lain, berkonflik. Dan, setelah hidup di muka bumi ini berabad-abad lamanya, mengapa manusia tidak bisa hidup damai di muka bumi yang indah ini? Pertanyaan ini telah diajukan berulang-ulang. Sebuah organisasi seperti ini telah dibentuk di sekeliling masalah itu. Apakah masa depan organisasi ini khususnya? Setelah tahun ke-40, apa yang akan terjadi kemudian?
Waktu adalah faktor aneh dalam kehidupan. Waktu sangat penting bagi kita semua. Dan masa depan adalah apa yang ada di masa sekarang. Masa depan adalah sekarang, oleh karena masa sekarang, yang juga masa lampau, memodifikasikan diri sekarang, menjadi masa depan. Inilah siklus waktu, titian waktu. Dan sekarang, bukan kemudian dari ulang tahun ke-40 organisasi ini, melainkan sekarang, pada saat kini, jika tidak ada perubahan radikal, mutasi fundamental, masa depan adalah apa yang ada kini. Dan itu telah terbukti dalam sejarah, dan kita bisa membuktikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apakah umat manusia--Anda dan kami, yang duduk di panggung ini--mohon maaf, saya duduk di panggung ini sebagai manusia, selama kita saling berkonflik terus-menerus dengan sesama manusia, tidak akan ada perdamaian di muka bumi ini. Orang boleh bicara tentang hal itu tanpa akhir. Hirarki Katolik Roma bicara tentang ‘Pacem in Terris’, dan mereka juga bertanggung jawab atas perang-perang yang mengerikan di masa lampau. Perang Seratus Tahun, penyiksaan, segala macam hal yang mengerikan yang mereka lakukan terhadap manusia. Semua ini fakta, aktualitas, bukan keinginan pembicara. Dan agama-agama, termasuk Islam, Hindu dan Buddha, dan sebagainya, mereka juga mempunyai perangnya sendiri. Dan masa depan setelah ulang tahun ke-40 ini ialah apa yang tengah terjadi sekarang.
Kita bertanya-tanya jika kita menyadari itu. Masa kini bukan hanya masa lampau, tetapi juga mengandung masa depan, masa lampau yang memodifikasikan diri, terus-menerus melalui masa kini, dan memroyeksikan masa depan. Jika kita tidak mengakhiri pertengkaran, pergulatan, antagonisme, kebencian, sekarang juga, esok akan seperti ini lagi. Dan Anda bisa mengulur esok itu selama seribu tahun, itu akan tetap esok.
Jadi penting bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita, sebagai manusia, sendirian atau sebagai komunitas, atau dalam keluarga, apakah kita bisa hidup damai satu sama lain? Organisasi tidak memecahkan masalah ini.
Anda boleh membentuk organisasi baru, tetapi perang tetap berlangsung. Jadi organisasi, entah organisasi dunia entah organisasi tertentu untuk menciptakan perdamaian, organisasi seperti itu tidak akan pernah berhasil, oleh karena manusia, secara individual, secara kolektif, sebagai bangsa, berkonflik. Negara-negara besar, seperti Amerika atau Rusia, berperang satu sama lain--secara ekonomis, secara ideologis, dan secara aktual--masih belum terjadi pertumpahan darah. Jadi perdamaian tidak mungkin terwujud di muka bumi ini jika ada bangsa-bangsa, yang seperti kami katakan, adalah kesukuan yang diagungkan.
Bangsa memberikan rasa aman tertentu; manusia membutuhkan rasa aman, dan ia berinvestasi dalam nasionalisme, atau dalam ideologi atau kepercayaan tertentu.
Kepercayaan, ideologi dan sebagainya telah memisahkan manusia. Dan organisasi tidak mungkin bisa menghasilkan perdamaian di antara manusia oleh karena ia percaya pada sesuatu, ia percaya pada ideologi-ideologi tertentu, ia percaya pada tuhan, dan orang lain tidak percaya.
Saya tidak tahu apakah orang pernah berpikir, agama-agama yang berdasarkan pada satu buku--seperti Al-Qur’an atau Alkitab--menjadi sangat fanatik, sempit dan fundamentalis. Dan agama-agama seperti Hinduisme dan Buddhisme, mereka memiliki banyak kitab, yang semuanya dianggap suci, benar, langsung datang dari mulut tuhan! Mereka tidak begitu fanatik, mereka toleran, mereka menyerap. Jadi begitulah konflik ini berlangsung terus; mereka yang bergantung, menaruh kepercayaan pada kitab suci-kitab suci, dan mereka yang tidak menaruh kepercayaan pada kitab mana pun. Jadi konflik antara satu kitab dan mereka yang menerima banyak kitab; saya tidak tahu, apakah kita sadar akan semua ini.
Dan kita bertanya dengan mendalam--jika Anda memang benar-benar serius--apakah Anda dan saya, dan mereka yang terlibat di dalam berbagai organisasi, bisa hidup damai satu sama lain? Kedamaian membutuhkan kecerdasan mendalam, bukan sekadar demonstrasi terhadap perang tertentu, terhadap bom atom atau bom nuklir, dan sebagainya. Semua itu produk dari pikiran, otak yang terpaku pada nasionalisme, pada sebentuk kepercayaan, ideologi tertentu, sehingga mereka menyediakan senjata--negara- negara adidaya, entah itu Rusia, Amerika, atau Inggris, atau Prancis--senjata ke seluruh dunia, dan mereka juga bicara tentang perdamaian, pada saat yang sama mereka menyediakan senjata.
Ini adalah dunia sinis yang besar, dan sinisme tidak pernah mentolerir kasih sayang, perhatian, cinta. Saya rasa, kita telah kehilangan sifat itu--sifat welas asih. Bukan menganalisis apa itu welas asih--itu bisa dianalisis dengan amat mudah. Anda tidak bisa menganalisis apa itu cinta; cinta tidak berada di dalam keterbatasan otak, oleh karena otak adalah alat dari indra, itu adalah pusat dari semua reaksi dan tindakan, dan kita mencoba menemukan perdamaian, cinta di dalam wilayah terbatas ini. Ini berarti, pikiran bukanlah cinta, oleh karena pikiran berdasarkan pengalaman, yang terbatas, dan berdasarkan pengetahuan, yang selalu terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Jadi pengetahuan selalu terbatas. Dan dari pengetahuan, yang tersimpan di otak sebagai ingatan, dari ingatan itu muncullah pikiran. Ini bisa diamati dengan amat sederhana dan mudah jika kita memeriksa diri sendiri, jika kita memandang kegiatan pikiran, pengalaman, pengetahuan kita sendiri. Anda tidak perlu membaca buku apa pun, atau menjadi spesialis untuk memahami cara Anda sendiri berpikir, hidup.
Jadi, pikiran selamanya terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Dan kita mencoba memecahkan semua masalah kita, entah yang bersifat teknologis, religius, dan pribadi, melalui kegiatan pikiran. Jelas pikiran bukanlah cinta, cinta bukanlah sensasi atau kenikmatan, itu bukan hasil dari keinginan. Itu sesuatu yang sama sekali lain. Untuk sampai pada cinta itu, yang adalah welas asih, yang memiliki kecerdasannya sendiri, kita perlu memahami diri sendiri, apa adanya diri kita--bukan melalui seorang analis, melainkan memahami kesedihan kita sendiri, kesenangan kita sendiri, kepercayaan kita sendiri.
Anda tahu, ke mana pun Anda pergi, di seluruh dunia, umat manusia menderita, karena berbagai alasan, yang mungkin remeh, mungkin pula sebuah peristiwa yang amat dalam, yang menyebabkan kepedihan, kesedihan. Dan setiap orang di muka bumi ini mengalami itu dalam skala kecil, atau sebagai peristiwa hebat, sebagai kematian. Dan kesedihan dialami oleh seluruh umat manusia; itu bukan kesedihan Anda atau kesedihan saya, itu kesedihan umat manusia, kecemasan, kepedihan, kesepian, keputusasaan, keagresifan umat manusia. Jadi, Anda dan kami, dan seluruh umat manusia, kita bukan manusia yang terpisah-pisah secara psikologis. Anda mungkin seorang perempuan atau laki-laki, Anda mungkin tinggi, gelap, pendek, dan seterusnya, tetapi di dalam, secara psikologis, yang jauh lebih penting, kita adalah umat manusia. Anda adalah umat manusia; jadi, jika Anda membunuh sesama manusia, jika Anda berkonflik dengan sesama manusia, Anda menghancurkan diri sendiri. Anda bisa mengamati ini dengan amat cermat jika Anda memandang diri sendiri tanpa distorsi apa pun.
Jadi, perdamaian hanya bisa ada apabila umat manusia, apabila Anda dan saya, tidak mempunyai konflik dalam diri kita. Dan Anda mungkin berkata, “Jika orang mencapai, atau sampai pada akhir dari semua konflik di dalam diri sendiri, bagaimana itu mempengaruhi seluruh umat manusia?” Ini pertanyaan yang amat tua. Ini sudah diajukan ribuan tahun lalu kepada Kristus; jika ia memang pernah ada. Dan kita harus bertanya, apakah di dalam diri kita kesedihan, kepedihan, kecemasan, dan semua itu, bisa berakhir? Jika kita menerapkan, memandang, mengamati, dengan perhatian mendalam, sebagaimana Anda memandang dengan cukup perhatian ketika Anda menyisir rambut Anda, atau mencukur jenggot Anda, dengan kualitas perhatian seperti itu, yang kuat, Anda bisa mengamati diri Anda--segala nuansa, yang halus-halus. Dan cerminnya adalah hubungan Anda dengan sesama manusia; di dalam cermin itu Anda bisa melihat diri Anda persis seperti apa adanya. Tetapi kebanyakan dari kita takut melihat apa adanya diri kita; jadi, berangsur-angsur kita mengembangkan perlawanan, rasa bersalah, dan segala macam itu. Jadi, kita tidak pernah menuntut kebebasan total--bukan untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk bebas dari pilihan. Di mana ada banyak pilihan, di situ ada banyak kebingungan.
Jadi, bisakah kita hidup di muka bumi ini, ‘Pacem in Terris’, dengan pemahaman mendalam tentang umat manusia, yang berarti memahami diri Anda sendiri dengan begitu mendalam, bukan menurut seorang psikolog atau psikoanalis. Mereka juga perlu dianalisis. Jadi, kita bisa, tanpa perlu berpaling kepada para spesialis, sebagai orang awam sederhana, kita bisa mengamati keanehan-keanehan, kecenderungan- kecenderungan kita sendiri. Otak kita--pembicara bukan seorang spesialis otak--otak kita telah terkondisi oleh perang, oleh kebencian, oleh konflik. Ia terkondisi melalui masa evolusi yang panjang ini; apakah otak itu beserta sel-selnya, yang mewadahi seluruh ingatan, apakah otak itu bisa membebaskan diri dari keterkondisiannya sendiri? Begini, mudah sekali menjawab pertanyaan seperti itu. Jika Anda berjalan ke Utara setiap hari sepanjang hidup Anda, sementara umat manusia berjalan ke satu arah, yakni konflik, dan ada orang datang lalu berkata, “Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana.” Ia serius, dan mungkin Anda juga serius. Lalu ia berkata, “Pergilah ke Selatan, pergilah ke Timur, ke mana saja, asal bukan ke situ.” Dan ketika Anda benar-benar menjauhkan diri dari arah itu, terjadilah perubahan di dalam sel-sel otak sendiri, oleh karena Anda telah mematahkan polanya. Dan pola itu harus dipatahkan sekarang, bukan empat puluh atau seratus tahun lagi.
Dan bisakah manusia memiliki vitalitas, energi untuk mengubah diri mereka sendiri menjadi manusia yang beradab, tidak saling membunuh satu sama lain?
PIMPINAN SIDANG: Bolehkah kami bertanya?
KRISHNAMURTI: Ya, Pak, bertanyalah. Senang sekali.
PIMPINAN: Kita punya waktu untuk beberapa pertanyaan, dan Mr. Krishnamurti dengan senang hati bersedia menjawab pertanyaan apa pun yang Anda ajukan. Bila Anda akan bertanya, silakan mengangkat tangan sehingga sistem suaranya terhubung. Terima kasih.
PENANYA: Saya mengajukan pertanyaan berkaitan dengan keinginan akan suatu ungkapan spiritual yang saya rasakan terhubung dengannya. Apakah saya didengarkan? Saya rasa tidak. Saya rasa, ada rasa terputus hubungan, yang dikomunikasikan kepada saya. Saya mengharapkan suatu hubungan spiritual dengan saya dan orang-orang lain di kelompok ini yang akan memberikan suasana batin yang membahagiakan. Itulah yang saya harapkan akan saya alami pada ceramah ini, suatu rasa akan kesatuan yang meningkat secara spiritual, alih-alih suatu ungkapan intelektual.
KRISHNAMURTI: Pertama-tama, saya tidak paham akan kata ‘spiritual’. Apakah itu emosional, romantik, ideologis, atau sesuatu yang samar-samar di udara; ataukah menghadapi aktualitas, apa yang tengah terjadi sekarang, yang terjadi di dalam diri kita maupun yang terjadi di dunia? Oleh karena Anda adalah dunia, Anda tidak terpisah dari dunia. Kita telah menciptakan masyarakat ini, dan kita adalah masyarakat itu. Dan apa pun pengalaman yang kita miliki, apa yang dinamakan ‘religius’ atau ‘spiritual’, kita harus meragukan pengalaman itu sendiri, kita harus mempertanyakan, bersikap skeptis. Saya tidak tahu, apakah Anda menyadari bahwa kata ‘skeptisisme’, mempertanyakan, menyelidik, tidak dianjurkan di dunia Kristen. Sedangkan di dalam Buddhisme, dan juga Hinduisme, itu adalah salah satu hal yang esensial, Anda harus mempertanyakan segala sesuatu, sampai Anda menemukan atau sampai pada kebenaran itu, yang bukan milik Anda, atau milik siapa pun, itulah kebenaran.
Dan penyelidikan itu bukan intelektual. Intelek hanyalah sebagian dari keseluruhan struktur manusia. Kita harus memandang dunia dan diri sendiri sebagai keberadaan yang holistik. Dan kebenaran bukanlah sesuatu untuk dialami. Jika boleh kami tunjukkan, siapakah yang mengalami itu, yang terlepas dari pengalamannya. Bukankah yang mengalami itu bagian dari pengalaman? Kalau tidak, ia tak akan tahu apa pengalaman yang dialaminya. Jadi yang mengalami adalah pengalaman; si pemikir adalah pikiran; si pengamat, dalam arti psikologis, adalah yang diamati. Tidak ada perbedaan. Dan di mana ada perbedaan, pemisahan, muncullah konflik. Dengan berakhirnya konflik terdapat kebebasan, dan barulah kebenaran bisa muncul. Semua ini bukanlah intelektual, demi tuhan. Ini adalah sesuatu yang kita hayati, dan temukan.
PENANYA: Anda banyak menekankan pada penyelidikan dan skeptisisme. Saya ingin tahu, apakah menurut Anda iman juga berperan di situ.
KRISHNAMURTI: Apakah iman itu? Pada apakah Anda beriman? Orang beriman pada suatu pengalaman tertentu; orang beriman pada suatu kepercayaan tertentu, atau pada sebuah lambang, dan seterusnya. Mengapa kita beriman? Apakah itu karena rasa takut, karena rasa tidak pasti, karena rasa tidak aman? Bila Anda punya iman, misalnya sebagai seorang Hindu beriman pada suatu lambang tertentu, dan Anda berpegang teguh pada iman itu, atau pada lambang itu, maka Anda berperang dengan dunia selebihnya. Tetapi untuk menyelidik dengan lembut, dengan berhati-hati, dengan mempertanyakan, bertanya kepada diri sendiri, maka dari situ muncullah kejernihan. Dan perlu ada kejernihan untuk memahami apa yang abadi.
PENANYA: Pada akhirnya, Anda berkata bahwa kita perlu mematahkan pola konflik di antara sesama manusia. Pertanyaan saya kepada Anda adalah, apakah Anda melihatnya sebagai proses evolusioner yang mau tidak mau akan terjadi? Ataukah Anda melihatnya sebagai sesuatu yang harus kita capai dengan bekerja keras? Dan ada pepatah yang kira-kira berbunyi: di dalam masa kegelapan, mata mulai melihat. Dan mengapa saya melontarkan pertanyaan ini kepada Anda, oleh karena dalam suatu arti tertentu, itu akan terjadi, atau itu tidak akan terjadi; tetapi bagaimana Anda melihat terjadinya?
KRISHNAMURTI: Saya tidak begitu paham pertanyaan Anda, Pak.
PENANYA: Baiklah. Anda bicara tentang mematahkan pola; manusia memiliki pola, otak memiliki pola, dan pola itu harus dipatahkan agar perdamaian bisa terwujud di dunia.
KRISHNAMURTI: Tentu saja.
PENANYA: Nah, apakah Anda melihat pematahan pola itu sebagai suatu gerak aktif, ataukah sebagai kemajuan alamiah di dalam evolusi manusia?
KRISHNAMURTI: Pak, apakah kita ini benar-benar ber-evolusi?
PENANYA: Saya rasa, kita terus-menerus ber-evolusi.
KRISHNAMURTI: Jadi, Anda menerima evolusi--evolusi psikologis, kita tidak berbicara tentang evolusi biologis, atau evolusi teknis--evolusi psikologis. Setelah sejuta tahun, atau lima puluh ribu tahun, apakah kita berubah secara mendalam? Bukankah kita ini sangat primitif, biadab? Jadi saya minta, mohon pertimbangkan apakah ada evolusi psikologis sama sekali? Saya mempertanyakan itu. Secara pribadi, bagi pembicara, tidak ada evolusi psikologis; yang ada hanya pengakhiran kesedihan, kesakitan, kecemasan, kesepian, keputusasaan, dan sebagainya. Manusia telah hidup bersama itu selama sejuta tahun. Dan jika kita bergantung pada waktu, yang adalah pikiran--pikiran dan waktu selalu terjadi bersama-sama- -jika kita bergantung pada evolusi, seribu tahun lagi atau lebih, kita masih akan tetap biadab.
PENANYA: Pertanyaan saya adalah: apa yang harus terjadi agar evolusi psikologis bisa mulai sebagaimana dipahami pembicara?
KRISHNAMURTI: Evolusi psikologis bagaimana? Saya tidak paham pertanyaannya.
PENANYA: Anda berkata, menurut Anda belum ada evolusi psikologis. Pertanyaan saya adalah: apakah yang harus terjadi agar akan terjadi, atau bisa terjadi, evolusi psikologis.
KRISHNAMURTI: Ibu, saya rasa, kita berdua tidak memahami satu sama lain. Kita telah hidup di bumi ini secara historis, atau dari penyelidikan zaman bahari, selama kurang lebih lima puluh ribu tahun. Dan selama masa evolusi yang panjang itu, secara psikologis, di dalam, secara subyektif, kita tetap kurang lebih biadab--saling membenci, saling membunuh. Dan waktu tidak akan memecahkan masalah itu, yang adalah evolusi. Dan kita bertanya, mungkinkah bagi setiap manusia, yang adalah dunia ini selebihnya, bahwa gerak psikologis itu berhenti, dan melihat sesuatu yang segar?
PENANYA: Saya ingin mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, dirumuskan secara lain: apakah yang perlu kita lakukan untuk mempengaruhi perlawanan terhadap evolusi ini. Saya ingin menyampaikan satu hal lagi. Bulan lalu, ada seorang bernama Dr Bohm; ia mengatakan hal yang sama seperti Anda dengan cara berbeda; ia seorang ilmuwan, ia menerangkan masalah yang sama. Saya bertanya, menurut Anda apakah yang bisa kita lakukan sekarang untuk menghasilkan ini?
KRISHNAMURTI: Sekarang saya mengerti. Apa yang bisa Anda lakukan sekarang, bukan? Berubahlah sepenuhnya!- -baik secara psikologis, maupun secara lahiriah. Pertama, revolusi psikologis, bukan evolusi, melainkan revolusi, berubahlah sepenuhnya. Itulah tindakan manusia yang sesungguhnya, bukan mencoba mengotak-atik di pinggiran.
PENANYA: Anda berkata, bahwa syarat penting untuk memahami umat manusia adalah mulai memahami diri kita sendiri dengan jelas. Apakah Anda melihat bahwa di ruangan ini, dalam waktu empat puluh tahun lagi, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemahaman akan umat manusia melalui pemahaman akan diri sendiri akan menjadi bagian dari pengambilan keputusan global?
KRISHNAMURTI: Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena saya tidak termasuk organisasi ini. Tanyakan kepada boss-boss itu.
PENANYA: Saya ingin menambahkan catatan lain, mungkin catatan untuk untuk menambah semangat dalam pertanyaan saya. Anda mengisyaratkan bahwa organisasi mungkin tidak bisa memberikan jawaban, dan Anda juga mengisyaratkan bahwa sejarah umat manusia membuat Anda cenderung pesimistik tentang masa depan dan keselamatan. Saya rasa, itu bergantung pada sifat organisasi, dan apakah organisasi itu melayani kepentingan umat manusia dan siap ber-evolusi, sebagaimana PBB dan banyak kelompok lain ber-evolusi, dan sebagaimana manusia ber-evolusi, dengan syarat kita tidak bunuh diri, dan dengan syarat kita bisa menghubungkan diri dengan kasih sayang dan respek, yang untuk itu gen-gen kita juga terkode. Tidak ada akhir dari apa yang bisa kita buat di atas atau di luar planet ini. Dan implikasinya di situ, yang saya setujui, ialah bahwa kita ber-evolusi oleh karena kita mempuyai kemampuan untuk mencinta dan bekerja sama, dan bahwa kita tidak akan habis oleh karena kita menunjukkan kebencian dan ketakutan dan keserakahan, dan di masa lampau kita menyerah kepada keburukan-keburukan itu. Tetapi justru dengan adanya Perserikatan Bangsa-Bangsa, kita mempunyai contoh tentang kemampuan manusia untuk tumbuh dan berbagi cita-cita. Saya rasa, masa kini memang mengandung masa depan, dan dengan bertindak dengan penuh semangat pada masa kini kita bisa mempengaruhi masa depan dan kelestarian kita. Oleh karena itu saya bertanya, apakah jawaban terhadap pertanyaan yang Anda tampilkan tentang bila orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya, dengan adanya batas waktu?
KRISHNAMUTI: Apakah pertanyaannya, Pak?
PENANYA: Pertanyaannya adalah, ketika orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya tanpa struktur organisasi.
KRISHNAMURTI: Saya telah menjelaskan itu; maaf, saya telah menjelaskan itu. Jika saya berubah, bagaimana itu mempengaruhi umat manusia, dunia selebihnya? Itu pertanyaannya, bukan, Pak? Tunggu sebentar, Pak.
PENANYA: Itu pertanyaannya.
KRISHNAMURTI: Saya rasa, jika boleh saya dengan penuh hormat menunjukkan, itu pertanyaan yang salah. Berubahlah dulu, dan Anda akan melihat apa yang terjadi. Ini hal yang sungguh amat penting. Kita harus mengesampingkan semua masalah-masalah sampingan. Mohon disadari sesuatu yang amat besar: bahwa Anda secara psikologis adalah seluruh umat manusia. Anda adalah umat manusia, entah Anda hidup di India, di Rusia, di Cina, atau di Amerika, atau di Eropa, Anda adalah umat manusia selebihnya, oleh karena Anda menderita, dan setiap orang di dunia ini menderita dengan caranya sendiri. Kita berbagi penderitaan ini, itu bukan penderitaanku. Jadi, jika Anda mengajukan pertanyaan: perbedaan apa yang akan dihasilkan jika saya atau Anda berubah, kalau saya boleh menunjukkan dengan segala kerendahan hati, itu adalah pertanyaan yang salah. Anda menghindari masalah pokoknya. Dan tampaknya kita tidak pernah menghadapi masalah pokoknya, tantangan pokok yang menuntut bahwa kita hidup secara lain sama sekali, bukan sebagai orang Amerika, orang Rusia, orang India, atau orang Buddhis, atau orang Kristen.
Saya tidak tahu, apakah Anda pernah menyadari bahwa orang Kristen bertanggung jawab terhadap pembunuhan lebih banyak manusia daripada kelompok agama lainnya. Harap jangan marah! Lalu Islam, dunia Muslim, lalu orang Hindu, dan orang Buddhis menyusul jauh di belakang. Jadi, jika mereka yang menamakan diri Kristen, termasuk Katolik, yang berjumlah sekitar delapan ratus juta orang, jika mereka berkata, “Tidak boleh ada perang lagi,” Anda akan memperoleh perdamaian di muka bumi ini. Tetapi mereka tidak mau berkata demikian. Hanya Buddhisme, Hinduisme, yang berkata, “Jangan membunuh. Jika Anda membunuh,”--mereka percaya akan reinkarnasi- -“Anda akan membayarnya dalam kehidupan yang akan datang.” Oleh karena itu, jangan membunuh, jangan membunuh makhluk yang paling kecil sekalipun, kecuali Anda harus makan, tumbuhan dan sebagainya. Tetapi jangan membunuh! Kami sebagai brahmana tidak dibesarkan secara itu, tidak membunuh seekor lalat, tidak membunuh binatang untuk makanan Anda. Tetapi semua itu sudah lenyap. Jadi, kami menyarankan bahwa masalah pokok dalam menghentikan perang adalah Anda harus mengakhiri antagonisme Anda sendiri, mengakhiri konflik-konflik Anda sendiri, mengakhiri kesengsaraan dan penderitaan Anda sendiri.
Mengapa kita memilih, terlepas dari benda-benda fisik--dua bahan, pakaian, mobil? Anda memilih karena perbedaan fungsinya dan keiritannya, dan sebagainya. Tetapi, secara psikologis, mengapa Anda harus memilih? Mengapa ada pilihan? Ada pilihan, bila Anda ingin pergi dari satu kota ke kota lain, bila Anda ingin pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain--bukan di Rusia, bukan di dunia tiranikal, di dunia totaliter, Anda terpaku di tempat Anda, Anda tidak boleh pindah--kecuali disetujui atasan. Dan di negeri ini, di masyarakat yang dinamakan demokratis, Anda mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang Anda inginkan. Dan Anda menamakannya kebebasan--untuk memenuhkan diri Anda, untuk memperoleh sukses besar. Anda mempunyai pilihan amat besar. Sekarang kita bicara tentang pilihan di bidang psikologis. Jika Anda melihat dengan amat jelas, tidak ada pilihan. Sayang kita tidak melihat dengan jelas. Kita tidak melihat jelas bahwa nasionalisme adalah salah satu penyebab perang. Kita tidak melihat jelas bahwa ideologi menumbuhkan perang, entah itu ideologi Marxis, atau Lenin, atau ideologi tertentu yang kita miliki. Jadi, kita memilih dari satu ideologi ke ideologi lain, dari satu agama ke agama lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, dan kita mengira kita bebas. Sebaliknya, itu menunjukkan kebingungan. Dan bila kita bingung, kita bertindak dalam kebingungan, dan dengan demikian menggandakan kebingungan, seperti dilakukan oleh para politisi--maaf.
PENANYA: Kami ada pertanyaan tertulis bagi Mr. Krishnamurti di sini. Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan?
KRISHNAMURTI: Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan? Saya tidak tahu, apa artinya itu. Tunggu dulu, Pak.
PENANYA: Maaf, sekarang ini Anda bicara dari forum publik, dan begitu ceramah ini selesai, Anda mungkin kembali ke dalam privasi yang mungkin sangat Anda senangi. Jadi, bagi kebanyakan manusia di dunia ini, terdapat pemisahan antara kehidupan publik dan kehidupan privat. Apa komentar Anda mengenai pemisahan ini? Apakah menurut Anda ini membawa pada konflik, apakah itu perlu?
KRISHNAMURTI: Antara kehidupan publik dan kehidupan privat? Itukah pertanyaannya? Mengapa Anda memisahkannya? Mengapa kita memisahkan kehidupan publik seolah-olah itu sesuatu di luar, dan kehidupan privat? Jika kita hidup dengan benar, dengan teliti, bukan secara intelektual, melainkan secara holistik, maka tidak ada kehidupan luar dan kehidupan privat. Secara holistik, artinya hidup sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai seorang sektarian, bukan sebagai individual, bukan sebagai batin kecil remeh, otak yang aktif mengejar kepentingan diri. Maaf, bila saya terkesan tegas. Sudah selesai, Pak?
PIMPINAN SIDANG: Ada dua pertanyaan lagi.
PENANYA: Jika Anda hidup dengan damai, dan seorang tiran menyerang, apakah Anda tidak mempertahankan diri?
KRISHNAMURTI: Apa yang Anda lakukan? Jika Anda hidup damai, dan seorang tiran atau seorang perampok menyerang Anda, apa yang Anda lakukan? Itulah pertanyaannya. Apakah Anda hidup damai sehari atau dua hari? Ataukah Anda hidup damai sepanjang hidup Anda? Jika Anda pernah hidup damai bertahun-tahun, maka Anda akan melakukan hal yang tepat bila Anda diserang.
Bapak-Bapak, pembicara telah berbicara seperti ini selama enam puluh tahun terakhir atau lebih--di seluruh dunia, kecuali di balik Tirai Besi; sebelum perang ia telah berkeliling di Eropa--dan pertanyaan-pertanya an ini telah diajukan kepada pembicara selama enam puluh tahun. Pola yang sama diulangi kembali oleh generasi muda, oleh suatu peradaban yang baru seperti Amerika, pertanyaan-pertanya an yang sama, dengan maksud yang sama, untuk menjerumuskan pembicara, atau untuk sungguh-sungguh memahami pembicara, atau memahami diri sendiri. Dan jika Anda bernasib malang atau bernasib mujur untuk berbicara selama enam puluh tahun, Anda akan tahu semua jawaban dan semua pertanyaan. Tidak ada perbedaan antara pertanyaan dan jawaban. Jika Anda memahami pertanyaannya dengan mendalam sungguh-sungguh, maka jawabannya terdapat di dalam pertanyaan itu.
PIMPINAN SIDANG: Mr. Robert Miller ingin bertanya.
PENANYA: Bukan mau bertanya, melainkan ingin mengucapkan selamat atas pernyataan Anda. Dan mengkonfirmasikan bahwa setelah tinggal di organisasi ini selama hampir empat puluh tahun, dan telah hidup lebih dari enam puluh tahun, saya telah sampai pada kesimpulan yang sama dengan Anda. Kita semua telah terprogram, kita terprogram ke dalam suatu bangsa, ke dalam suatu ideologi, ke dalam suatu agama. Dan semua ini adalah manusia yang terpecah-belah. Saya perlu waktu empat puluh tahun berada di gedung ini untuk di-deprogram- kan dari dua atau tiga kebangsaan yang dipaksakan kepada saya, setiap kali saya diberi senapan untuk ditembakkan ke arah lain. Dan di sinilah, setelah melihat dunia dalam totalitasnya dan umat manusia dalam totalitasnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa lebih penting untuk menjadi seorang manusia daripada menjadi seorang Yahudi, atau seorang Katolik, atau seorang Prancis, atau seorang Rusia, atau seorang kulit putih, atau seorang kulit hitam.
KRISHNAMURTI: Benar.
PENANYA: Dan di dalam kitab saya, saya tidak akan membunuh berdasarkan alasan apa pun, atau demi bangsa saya, atau demi agama apa pun, atau demi ideologi apa pun. Inilah kesimpulan saya yang juga kesimpulan Anda.
KRISHNAMURTI: Apakah itu suatu kesimpulan, Pak? Ataukah aktualitas?
PENANYA: Itu aktualitas saya.
KRISHNAMURTI: Benar. Bukan kesimpulan.
PENANYA: Saya tidak berdebat tentang agama, tetapi ingin mengingatkan bahwa pepatah, “Sebuah mata bagi sebuah mata, sebuah gigi bagi sebuah gigi,” sesungguhnya bukanlah ajaran Kristiani. Sebaliknya, Kristus berpendapat bahwa jalan perdamaian adalah memperhatikan dan mengurus sesama manusia, memiliki welas asih dan cinta satu sama lain. Tetapi saya ingin tahu, bagaimana mematahkan pola konfrontasi di antara manusia ini. Saya tidak bicara tentang negara, karena negara dibentuk oleh manusia, dan juga pemerintah, mereka adalah manusia yang memerintah negeri. Bagaimana kita bisa mematahkan pola ini? Mengapa umat manusia tidak mampu memraktikkan pikiran-pikiran gemilang yang ditulis Kristus untuk kita, dan ditulis pula oleh semua agama? Saya ingin tahu, apakah kita bisa menemukan resep, solusi untuk mematahkan pola konfrontasi yang mengerikan, bahkan kebencian di antara keluarga, sebagaimana ditunjukkan oleh Krishnamurti, oleh karena itu bukan hanya perang di antara bangsa, selalu ada konfrontasi, bahkan di antara anak-anak, yang seorang bersama Mama dan yang lain ingin pula ke situ. Pola itu, bagaimana kita bisa mematahkannya?
KRISHNAMURTI: Bolehkah saya menjawab pertanyaan Anda? Kita terprogram, seperti komputer--kita orang Katolik, Protestan, Buddhis, dan seterusnya. Seperti disampaikan oleh Bapak (?), kita terkondisi. Apakah kita menyadari, atau melihat secara aktual, bukan secara teoretis, atau secara ideologis, melainkan secara aktual melihat bahwa kita terprogram? Ataukah itu sekadar pernyataan sepintas lalu saja? Jika Anda sungguh-sungguh terprogram, sadarkan Anda konsekuensi dari terprogram? Salah satu konsekuensinya adalah kebencian, atau perang, atau memisahkan dari orang lain. Jika kita menyadari bahwa kita terprogram, ditekan, dikhotbahi, dan jika kita sungguh-sungguh melihat itu, Anda membuangnya, Anda tidak butuh resep untuk itu. Pada saat Anda mempunyai resep Anda terperangkap lagi di situ. Maka Anda terprogram lagi, oleh karena Anda mempunyai program Anda, dan orang akan memberikan program mereka kepada Anda. Jadi, yang penting adalah menyadari aktualitas keadaan terprogram, bukan secara intelektual, melainkan dengan seluruh darah daging dan energi Anda.
PIMPINAN SIDANG: Oleh karena unsur waktu, kita tidak bisa mengajukan pertanyaan-pertanya an lagi. Atas nama Pacem in Terris Society dan Movement for A Better World, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada pembicara tamu kita yang terhormat, serta Brother Fellow dan Ambassador Berry yang merupakan Ketua-Ketua Kehormatan dari Perhimpunan ini, serta Anda sekalian yang telah datang menghadiri ceramah pada hari ini.
Ada sebuah upacara sangat sederhana sebelum Anda pergi. Tuan Krishnamurti berada di sini tahun lalu pada 17 April, pada saat kita merayakan hari Pacem in Terris. Dan tahun ini kita beruntung, pada hari ulang tahun ke-22 Pacem in Terris, dan Anda semua telah mendengar tentang hal itu. Atas nama Pacem in Terris Society di Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami mendapat kehormatan untuk menganugerahkan kepada Anda, Mr. Krishnamurti, Guru Dunia, Medali Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1984.***

Posted by Sari on May 31, '07 6:49 AM for everyone  Salah seorang teman Nasrudin Hoja suka sekali mengumpulkan uang. Ia cepat menjadi kaya, namun memiliki sifat kurang terpuji yaitu kikir.
Suatu hari si kikir bepergian dengan teman-temannya, termasuk Nasrudin. Tatkala melewati tepian sungai, si kikir terpeleset dan jatuh tercebur. Semua temannya berlarian untuk menolong, seorang diantaranya membungkuk sambil mengulurkan tangan “Ayo, berikan tanganmu. Nanti engkau kutarik ke atas”. Si kikir diam saja, ia tak mau mengulurkan tangannya untuk ditolong.
Seorang temannya yang lain melakukan hal serupa, dan si kikir tetap saja tidak mau memberikan tangannya untuk ditolong.
Kini giliran Nasrudin datang, ia membungkuk ke tepian sungai “Terimalah tanganku ini kawan, aku akan mengangkatmu naik ke atas sungai”. Kali ini si kikir bergegas mengulurkan tangannya. Ia diangkat dari sungai dengan keadaan kuyup.
Teman-temannya bingung melihat ulah Nasrudin. “Ah, kalian seperti tak mengerti watak teman kita ini,” kata Nasrudin sambil tersenyum.
Jika kalian berkata ‘Berikan!’ kepadanya, pasti ia akan diam dan tak mau mengulurkan tangannya. Coba kalian berkata ‘Terimalah wahai kawanku!’, pasti ia akan segera mengulurkan tangannya. Apa kalian semua lupa ia kan sangat kikir.”
Si kikir dengan muka cemberut bergegas pergi meninggalkan Nasrudin dan teman-temannya. 
Posted by Sari on May 24, '07 1:37 AM for everyone > > A Woman and a Fork ..... There was a young woman who had been diagnosed with a terminal illness and had been given three months to live. So as she was getting her things "in order," she contacted her Rabbi and had him come to her house to discuss certain aspects of her final wishes. > > She told him which songs she wanted sung at the service, what scriptures she would like read, and what outfit she wanted to be buried in. Everything was in order and the Rabbi was preparing to leave when the young woman suddenly remembered something very important to her."There's one more thing," she said excitedly."What's that?" came the Rabbi's reply."This is very important,"the young woman continued. "I want to be buried with a fork in my right hand."The Rabbi stood looking at the young woman, not knowing quite what to say."That surprises you, doesn't it?" the young woman asked. "Well,to be honest, I'm puzzled by the request," said the Rabbi. The young woman explained. "My grandmother once told me this story, and from there on out, I have always done so. I have also, always tried to pass along its message to those I love and those who are in need of encouragement. In all my years of attending socials and dinners, I always remember that when the dishes of the main course were being cleared, someone would inevitably lean over and say, 'Keep your fork.' It was my favorite part because I knew that something better was coming...like velvety chocolate cake or deep-dish apple pie. Something wonderful, and with substance!' So, I just want people to see me there in that casket with a fork in my hand and I want them to wonder "What's with the fork?" Then I want you to tell them: "Keep your fork ..the best is yet to come." The Rabbi's eyes welled up with tears of joy as he hugged the young woman good-bye. He knew this would be one of the last times he would see her before her death. But he also knew that the young woman had a better grasp of heaven than he did. She had a better grasp of what heaven would be like than many people twice her age, with twice as much experience and knowledge. She KNEW that something better was coming.
> > At the funeral people were walking by the young woman's casket and they saw the cloak she was wearing and the fork placed in her right hand. Over and over, the Rabbi heard the question "what's with the fork?" And over and over he smiled. During his message, the Rabbi told the people of the conversation he had with the young woman shortly before she died. He also told them about the fork and about what it symbolized to her. The Rabbi told the people how he could not stop thinking about the fork and told them that they probably would not be able to stop thinking about it either.
> > He was right. So the next time you reach down for your fork, let it remind you ever so gently, that the best is yet to come. Friends are a very rare jewel indeed. They make you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their hearts to us. Show your fiends how much you care. Remember to always be there for them, even when you need them more. For you never know when it may be their time to "Keep your fork." Cherish the time you have, and > the memories you share... being friends with someone is not an opportunity but a sweet responsibility.
Posted by Sari on May 24, '07 12:15 AM for everyone  Seorang Pembunuh......!
Oleh : Reza Gardino
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan Indonesia ! 
Posted by Sari on Feb 11, '07 10:20 PM for everyone  Tequila & Salt
They say it takes a minute to find a special person, an hour to appreciate them, a day to love them, but an entire life to forget them.
You should tape then in your bathroom mirror where one could read it every day. You may not realize it, but it's 100% true.
1. There are at least two people in this world that you would die for. 2. At least 15 people in this world love you in some way. 3. The only reason anyone would ever hate you is because they want to be just like you. 4. A smile from you can bring happiness to anyone, even if they don't like you. 5. Every night, SOMEONE thinks about you before they go to sleep. 6. You mean the world to someone. 7. You are special and unique. 8. Someone that you don't even know exists loves you. 9. When you make the biggest mistake ever, something good comes from it. 10. When you think the world has turned its back on you take another look. 11. Always remember the compliments you received. Forget about the rude remarks.
And always remember....when life hands you Lemons, ask for tequila and salt and call me over!
Good friends are like stars........You don't always see them, But you know they are always there.
Posted by Sari on Jul 22, '06 8:48 PM for everyone
Rapat Direksi baru saja berakhir.
Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya. "Waduh, memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco". Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar, kemudian, kami semua mulai menceritakan saat-saat yang paling menyakitkan di masa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah lain-lainnya.
"Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu." Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
"Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara2 lainnya yang masih di rumah."
Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh...seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih...bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak peduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan."
Suara Frank mulai merendah sedikit. "Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri ke depan dan menciumi aku selamat tinggal!"
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai ke sekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya ke arahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, "Jangan, ayah". Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, "Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan". Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah. Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. "Kau benar", katanya. "Kau sudah jadi pemuda besar...seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi".
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. "Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat di pelabuhan, tapi kapal ayah tidak. Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan. Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada di laut. Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya."
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, "Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang Akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku...untuk merasakan wajah tuanya yang kasar...untuk mencium bau air laut dan samudra padanya...untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua "untuk sebuah ciuman selamat tinggal."
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita.
Posted by Sari on Jul 17, '06 1:34 PM for everyone
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. * Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil untuk kerja di tempatnya. * Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.
Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah." * Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku." * Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah." Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam." Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi." Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana." * Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku." Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah." Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. * Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit." * Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.
YANG PALING PENTING, HIDUP INI HARUS BERMANFAAT BUAT MAKHLUK LAIN.
Posted by Sari on Jul 12, '06 9:11 AM for everyone
Perjalanan menanjak dan
menurun di Baduy ternyata membuat aku sedikit berpikir mengenai
kehidupan.
Pada
saat kita menanjak dan menengadah ke atas, melihat betapa jauh dan
berat perjalanan yang harus ditempuh, ternyata mental langsung drop...
dan berpikir... sangupkah aku sampai ke atas?
Tapi
kalau kita melihat ke bawah, melihat langkah kaki kita, dan sesekali
melihat alam sekitar dan mengagumi keindahannya... tanjakan paling
tinggi pun tak terasa...
Mungkin, mungkin, begitulah kita melihat kehidupan kita. Kalau kita melihat di mana akhir tujuan kita, mungkin akan terasa panjang dan capek.
Tapi
kalau kita melihat langkah kita, satu demi satu dan berhenti sejenak
menikmati, menengadah sedikit melihat tujuan, mungkin, mungkin tidak
terasa begitu berat...
Posted by Sari on Jul 2, '06 12:43 PM for everyone
Seorang ayah memberi anaknya yang bertabiat buruk sekantung penuh paku. Ia menyuruh anaknya memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya, berselisih paham dengan orang lain atau melakukan hal-hal buruk lainnya.
Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.
Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Kemudian, sang ayah membawanya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berbuat jahat pada orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti itu.
Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya tetap tertinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu yang kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Selalu memikirkan orang lain sebelum diri sendiri*, jangan mendendam ataupun menyimpan luka didalam hatimu atas perlakuan orang lain terhadapmu.
Posted by Sari on Jun 30, '06 10:00 AM for everyone Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari?
Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan.
Mari kita berhitung Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai angka 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 Rp 30.000. Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per hari!
Kita membuat mereka betah di jalan Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan - satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.
Jajan, main dingdong dan setoran Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak sepakat dengan salah satu program UNICEF, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari sekian penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka.
Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah dan tetap berkeliaran di jalan.
Siapkan biskuit, permen, susu kotak Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada anda semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai pengganti uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak pakai.
Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda:
- Biskuit, permen, buah, susu kotak/botol, atau
- Barang-barang bermanfaat lainnya - yang langsung bisa diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat anda.
Menjadi seorang SAHABAT yang menaruh kasih setiap waktu...
Posted by Sari on Jun 29, '06 11:07 PM for everyone One day, a seamstress was sewing while sitting close to a river and her thimble fell into the river. When she cried out, the Lord appeared and asked, "My dear child, why are you crying?" The seamstress replied that her thimble had fallen into the water and that she needed it to help her husband in making a living for their family.
The Lord dipped his hand into the water and pulled up a golden thimble set with pearls. "Is this your thimble?" the Lord asked.
The seamstress replied, "No."
The Lord again dipped into the river. He held out a silver thimble ringed with sapphires. "Is this your thimble?" the Lord asked again.
The seamstress replied, "No"
The Lord reached down again and came up with a leather thimble. "Is this your thimble?" the Lord asked.
The seamstress replied, "YES."
The lord was pleased with the woman's honesty and gave her all three thimbles to keep and the seamstress went home happy.
Some years later, the seamstress was walking with her husband along the same riverbank and her husband fell into the river and disappeared under the water. When she cried out, the Lord again appeared and asked her, "Why are you crying?"
"Oh Lord, my husband has fallen into the river!"
The Lord went down into the water and came up with Mel Gibson. "Is this your husband?" the Lord asked.
"Yes," cried the seamstress.
The lord was furious. "YOU LIED! That is an untrue!
The seamstress replied, "Oh, forgive me, my Lord. It is a misunderstanding. You see, if I had said 'no' to Mel Gibson, you would have come up with Tom Cruise. Then, if I said 'No' to him, you would have come up with my husband and had I then said 'yes' you would have given me all three. Lord, I'm not in the best of health and would not be able to take care of all three husbands, so that's why I said 'yes' to Mel Gibson."
The moral of this story is: WHENEVER A WOMAN LIES, IT'S FOR A GOOD AND HONORABLE REASON AND IN THE BEST INTEREST OF OTHERS. THAT'S OUR STORY, AND
WE'RE STICKING TO IT
Posted by Sari on Jun 21, '06 10:17 PM for everyone Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus.
Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.
Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya,
"Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan... "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu." "Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu.Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya. "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
* Blessed who ever wrote this...
<hr size=5>
Posted by Sari on Jun 16, '06 10:06 AM for everyone  Hati Seorang Ayah
Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?"
Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"
Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."
"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."
"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."
"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."
"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.
Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."
"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."
"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki"
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."
*gak tau nih tulisan siapa, dr milis soalnya....

| |